Pada suatu hari, Sultan Harun al-Rasyid memanggil Abu Nawas menghadap ke Istana. Kali ini Sultan ingin menguji kecerdikan Abu Nawas. Sesampainya di hadapan Sultan, Abu Nawas pun menyembah. Dan Sultan bertitah, “Hai, Abu Nawas, aku menginginkan enam ekor lembu berjenggot yang pandai bicara, bisakah engkau mendatangkan mereka dalam waktu seminggu? Kalau gagal, akan aku penggal lehermu.
“Baiklah, tuanku Syah Alam, hamba junjung tinggi titah tuanku.”
Semua punggawa istana yang hadir pada saat itu, berkata dalam hati, “Mampuslah kau Abu Nawas!”
Abu Nawas bermohon diri dan pulang ke rumah. Begitu sampai di rumah, ia duduk berdiam diri merenungkan keinginan Sultan. Seharian ia tidak keluar rumah, sehingga membuat tetangga heran. Ia baru keluar rumah persis setelah seminggu kemudian, yaitu batas waktu yang diberikan Sultan kepadanya.
Ia segera menuju kerumunan orang banyak, lalu ujarnya, “Hai orang-orang muda, hari ini hari apa?”
Orang-orang yang menjawab benar akan dia lepaskan, tetapi orang-orang yang menjawab salah, akan ia tahan. Dan ternyata, tidak ada seorangpun yang menjawab dengan benar. Tak ayal, Abu Nawas pun marah-marah kepada mereka, “Begitu saja kok anggak bisa menjawab. Kalau begitu, mari kita menghadap Sultan Harun Al-Rasyid, untuk mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya.”
Keesokan harinya, balairung istana Baghdad dipenuhi warga masyarakat yang ingin tahu kesanggupan Abu Nawas mambawa enam ekor Lembu berjenggot.
Sampai di depan Sultan Harun Al-Rasyid, ia pun menghaturkan sembah dan duduk dengan khidmat. Lalu, Sultan berkata, “Hai Abu Nawas, mana lembu berjenggot yang pandai bicara itu?”
Tanpa banyak bicara, Abu Nawas pun menunjuk keenam orang yang dibawanya itu, “Inilah mereka, tuanku Syah Alam.”
“Hai, Abu Nawas, apa yang kau tunjukkan kepadaku itu?”
“Ya, tuanku Syah Alam, tanyalah pada mereka hari apa sekarang,” jawab Abu Nawas.
Ketika Sultan bertanya, ternyata orang-orang itu memberikan jawaban berbeda-beda. Maka berujarlah Abu Nawas, “Jika mereka manusia, tentunya tahu hari ini hari apa. Apalagi jika tuanku menanyakan hari yang lain, akan tambah pusinglah mereka. Manusia atau hewan kah mereka ini? “Inilah lembu berjenggot yang pandai bicara itu, Tuanku.”
Sultan heran melihat Abu Nawas pandai melepaskan diri dari ancaman hukuman. Maka Sultan pun memberikan hadiah 5.000 dinar kepada Abu Nawas.
Ada seorang saudagar di Bagdad yang mempunyai sebuah kolam yang airnya terkenal sangat dingin. Konon tidak seorangpun yang tahan berendam didalamnya berlama-lama, apalagi hingga separuh malam.
“Siapa yang berani berendam semalam di kolamku, aku beri hadiah sepuluh ringgit,” kata saudagar itu.
Ajakan tersebut mengundang banyak orang untuk mencobanya. Namun tidak ada yang tahan semalam, paling lama hanya mampu sampai sepertiga malam.
Pada suatu hari datang seorang pengemis kepadanya. “Maukah kamu berendam di dalam kolamku ini semalam? Jika kamu tahan aku beri hadiah sepuluh ringgit,” kata si saudagar.
“Baiklah akan kucoba,” jawab si pengemis. Kemudian dicelupkannya kedua tangan dan kakinya ke dalam kolam, memang air kolam itu dingin sekali. “Boleh juga,” katanya kemudian.
“Kalau begitu nanti malam kamu bisa berendam disitu,” kata si saudagar.
Menanti datangnya malam si pengemis pulang dulu ingin memberi tahu anak istrinya mengenai rencana berendam di kolam itu.
“Istriku,” kata si pengemis sesampainya di rumah. “Bagaimana pendapatmu bila aku berendam semalam di kolam saudagar itu untuk mendapat uang sepuluh ringgit? Kalau kamu setuju aku akan mencobanya.”
“Setuju,” jawab si istri, “Moga-moga Tuhan menguatkan badanmu.”
Kemudian pengemis itu kembali ke rumah saudagar. “Nanti malam jam delapan kamu boleh masuk ke kolamku dan boleh keluar jam enam pagi,” kata si saudagar, “Jika tahan akan ku bayar upahmu.”
Setelah sampai waktunya masuklah si pengemis ke dalam kolam, hampir tengah malam ia kedinginan sampai tidak tahan lagi dan ingin keluar, tetapi karena mengharap uang upah sepuluh ringgit, ditahannya maksud itu sekuat tenaga. Ia kemudian berdoa kepada Tuhan agar airnya tidak terlalu dingin lagi. Ternyata doanya dikabulkan, ia tidak merasa kedinginan lagi. Kira-kira jam dua pagi anaknya datang menyusul. Ia khawatir jangan-jangan bapaknya mati kedinginan. Hatinya sangat gembira ketika dilihat bapaknya masih hidup. Kemudian ia menyalakan api di tepi kolam dan menunggu sampai pagi
.
Asiiikk....dapat uang......
Siang harinya pengemis itu bangkit dari kolam dan buru-buru menemui si saudagar untuk minta upahnya. Namun saudagar itu menolak membayar, “Aku tidak mau membayar, karena anakmu membuat api di tepi kolam, kamu pasti tidak kedinginan.”
Namun si pengemis tidak mau kalah, “Panas api itu tidak sampai ke badan saya, selain apinya jauh, saya kan berendam di air, masakan api bisa masuk ke dalam air?”
“Aku tetap tidak mau membayar upahmu,” kata saudagar itu ngotot. “Sekarang terserah kamu, mau melapor atau berkelahi denganku, aku tunggu.”
Dengan perasaan gondok pengemis itu pulang ke rumah, “Sudah kedinginan setengah mati, tidak dapat uang lagi,” pikirnya. Ia kemudian mengadukan penipuan itu kepada seorang hakim. Boro-boro pengaduannya di dengar, Hakim itu malahan membenarkan sikap sang saudagar. Lantas ia berusaha menemui orang-orang besar lainnya untuk diajak bicara, namun ia tetap disalahkan juga.
“Kemana lagi aku akan mengadukan nasibku ini,” kata si pengemis dengan nada putus asa. “Ya Allah, engkau jugalah yang tahu nasib hamba-Mu ini, mudah-mudahan tiap-tipa orang yang benar engkau menangkan.” Doanya dalam hati.
Ia pun berjalan mengikuti langkah kakinya dengan perasaan yang semakin dongkol. Dengan takdir Allah ia bertemu dengan Abu Nawas di sudut jalan.
“Hai, hamba Allah,” Tanya Abu Nawas, ketika melihat pengemis itu tampak sangat sedih. “mengapa anda kelihatan murung sekali? Padahal udara sedemikian cerah.”
“Memang benar hamba sedang dirundung malang,” kata si pengemis, lantas diceritakan musibah yang menimpa si pengemis sambil mengadukan nasibnya.
“Jangan sedih lagi,” kata Abu Nawas ringan. “Insyaallah aku dapat membantu menyelesaikan masalahmu. Besok datanglah ke rumahku dan lihatlah caraku, niscaya kamu menang dengan izin Allah.”
“Terima kasih banyak, anda bersedia menolongku,” kata si pengemis. Lantas keduanya berpisah.
Abu Nawas tidak pulang ke rumah, melainkan menghadap Baginda Sultan di Istana. “Apa kabar, hai Abu Nawas?” sapa Baginda Sultan begitu melihat batang hidung Abu Nawas. “Ada masalah apa gerangan hari ini?”
“Kabar baik, ya Tuanku Syah Alam,” jawab Abu Nawas. “jika tidak keberatan patik silahkan baginda datang kerumah patik, sebab patik punya hajat.”
“Kapan aku mesti datang ke rumahmu?” tanya baginda Sultan.
“Hari Senin jam tujuh pagi, tuanku,” jawa Abu Nawas.
“Baiklah,” kata Sultan, aku pasti datang ke rumahmu.”
Begitu keluar dari Istana, Abu Nawas langsung ke rumah saudagar yang punya kolam, kemudian ke rumah tuan hakim dan pembesar-pembesar lainnya yang pernah dihubungi oleh si pengemis. Kepada mereka Abu Nawas menyampaikan undangan untuk datang kerumahnya senin depan.
Hari senin yang ditunggu, sejak jam tujuh pagi rumah Abu Nawas telah penuh dengan tamu yang diundang, termasuk baginda Sultan. Mereka duduk di permadani yang sebelumnya telah di gelar oleh tuan rumah sesuai dengan pangkat dan kedudukan masing-masing. Setelah semuanya terkumpul, Abu Nawas mohon kepada sultan untuk pergi kebelakang rumah, ia kemudian menggantung sebuah periuk besar pada sebuah pohon, menjerangnya – menaruh di atas api.
Tunggu punya tunggu, Abu Nawas tidak tampak batang hidungnya, maka Sultan pun memanggil Abu Nawas, “kemana gerangan si Abu Nawas, sudah masakkah nasinya atau belum?” gerutu Sultan.
Rupanya gerutuan Sultan di dengar oleh Abu Nawas, ia pun menjawab, “Tunggulah sebentar lagi, tuanku Syah Alam.”
Baginda pun diam, dan duduk kembali. Namun ketika matahari telah sampai ke ubun-ubun, ternyata Abu Nawas tak juga muncul dihadapan para tamu. Perut baginda yang buncit itu telah keroncongan. “Hai Abu Nawas, bagaimana dengan masakanmu itu? Aku sudah lapar, kata Baginda.
“Sebentar lagi, ya Syah Alam,” sahut tuan rumah.
Baginda masih sabar, ia kemudian duduk kembali, tetapi ketika waktu dzuhur sudah hampir habis tak juga ada hidangan yang keluar, baginda tak sabar lagi, ia pun menyusul Abu Nawas dibagian belakang rumah, di ikuti tamu-tamu lainnya. Mereka mau tahu apa sesungguhnya yang dikerjakan tuan rumah, ternyata Abu Nawas sedang mengipa-ngipas api di tungkunya.
“Hai Abu Nawas, mengapa kamu membuat api di bawah pohon seperti itu? Tanga baginda Sultan
Abu Nawas pun bangkit, demi mendengar pernyataan baginda. “Ya tuanku Syah Alam, hamba sedang memasak nasi, sebentar lagi juga masak,” jawabnya.
“Menanak nasi?” tanya baginda, “Mana periuknya?”
“Ada, tuanku,” jawab Abu nawas sambil mengangkat mukanya ke atas.
“Ada?” tanya beginda keheranan. “Mana?” ia mendongakkan mukanya ke atas mengikuti gerak Abu Nawas, tampak di atas sana sebuah periuk besar bergantung jauh dari tanah.
“Hai, Abu Nawas, sudah gilakah kamu?” tanya Sultan. “Memasak nasi bukan begitu caranya, periuk di atas pohon, apinya di bawah, kamu tunggu sepuluh hari pun beras itu tidak bakalan jadi nasi.”
“Begini, Baginda,” Abu Nawas berusaha menjelaskan perbuatannya. “Ada seorang pengemis berjanji dengan seorang saudagar, pengemis itu disuruh berendam dalam kolam yang airnya sangat dingin dan akan diupah sepuluh ringgit jika mampu bertahan satu malam. Si pengemis setuju karena mengharap upah sepuluh ringgit dan berhasil melaksanakan janjinya. Tapi si saudagar tidak mau membayar, dengan alasan anak si pengemis membuat api di pinggir kolam.” Lalu semuanya diceritakan kepada Sultan lengkap dengan sikap tuan hakim dan para pembesar yang membenarkan sikap si saudagar. “Itulah sebabnya patik berbuat seperti ini.”
“Boro-boro nasi itu akan matang,” kata Sultan, “Airnya saja tidak bakal panas, karena apinya terlalu jauh.”
“Demikian pula halnya si pengemis,” kata Abu Nawas lagi. “Ia di dalam air dan anaknya membuat api di tanah jauh dari pinggir kolam. Tetapi saudagar itu mengatakan bahwa si pengemis tidak berendam di air karena ada api di pinggir kolam, sehingga air kolam jadi hangat.”
Saudagar itu pucat mukanya. Ia tidak dapat membantah kata-kata Abu Nawas. Begitu pula para pembesar itu, karena memang demikian halnya.
“Sekarang aku ambil keputusan begini,” kata Sultan. “Saudagar itu harus membayar si pengemis seratus dirham dan di hukum selama satu bulan karena telah berbuat salah kepada orang miskin. Hakim dan orang-orang pembesar di hukum empat hari karena berbuat tidak adil dan menyalahkan orang yang benar.”
Saat itu juga si pengemis memperoleh uangnya dari si saudagar. Setelah menyampaikan hormat kepada Sultan dan memberi salam kepada Abu Nawas, ia pun pulang dengan riangnya. Sultan kemudian memerintah mentrinya untuk memenjarakan saudagar dan para pembesar sebelum akhirnya kembali ke Istana dalam keadaan lapar dan dahaga.
Akan halnya Abu Nawas, ia pun sebenarnya perutnya keroncongan dan kehausan.
Perlahan jari-jari dingin merayap menyelimuti peraduan udara, sang embun dengan serdadunya bergerilya memecahkan kebosanan suasana, membangunkan waktu yang tertidur. Gerak gemulai layaknya sang penari, tak terelakkan lagi redup ceria wajahnya memandang arogansi sang mentari, sang rembulan mengalah memucat perlahan memudar dan tertutup sama sekali.
Bersamaan dengan itu terdengar suara membahana semesta, menggema, yang mengalun lembut, sebuah irama yang membelai dan menampar, kumandang Adzan Shubuh. tampak sebelum pergi, dari balik awan rembulan menyaksikan barisan kecil berwarna putih bergerak terburu menuju satu titik, dimana sumber suara nyaring terdengar yang sudah tak asing lagi baginya, suara itulah yang tiap kali mengiringi kedatangan dan kepergiannya.
Bukan sang mentari namanya jika tak mampu menguasai suasana saat itu. Segera saja dia usir embun dan serdadunya, dia tajamkan matanya hingga rembulan bersembunyi di balik awan yang jauh. Sorot sangar matanya sangar, penuh keyakinan, dan dengan takut kehilangan setiap inchi nya perlahan – lahan mengawasi dan memerdekakan semua tempat dari penjajahan kegelapan. Dia tersenyum menandakan kepuasan yang sangat, dia tebarkan kehangatan, menandakan kehidupan akan segera dimulai. Dia ucapkan “selamat pagi”…..seperti biasa.
Ucapan itu pulalah yang seperti biasanya keluar dari mulut seorang kakek kepada cucu satu-satunya dan kesayangannya, ketika fajar tiba.
Seorang kakek yang sudah sanagat renta, namun masih tegap, dan kokoh memijak bumi. Namun, keriput diwajahnya tak bisa disembunyikan lagi, sang kakek menyerah pada waktu ketika usianya sekarang beranjak 90 tahun. Warga sekitar menyebutnya “Ki Seto” dan dia menamakan cucu kesayangannya “Rangga”.
Ki Seto : “selamat pagi, Nak..!”
Bulan depan “Rangga” menginjak usia 20 tahun, sudah sempurna pertumbuhan rambutnya, sedikit sekali menghiasi atas bibirnya namun lebat dibawah dagunya. Rambutnya pendeknya ikal berwarna hitam. Seketika dia terbangun ketika mendengar ucapan kakeknya, matanya terbelalak, jelas sekali berwarna kebiruan. Senyum sang kakek menebar wangi diruang kamar sempi ukuran 4x6 m. Setelah mengerti cucunya sudah terbangun dari mimpi indahnya, “Ki Seto” beranjak menuju jendela kamar yang letaknya berseberangan tak jauh dari tempat tidur “Rangga”. Suara berdecit terdengar jelas ketika “Ki Seto” mendorong jendela yang berbahan dasar kayu dan agak keropos, lubang petilasan rayap Nampak diseluruh permukaannya. Engsel nya agak miring kebawah ketika “Ki Seto” menyempurnakan cahaya yang berebut hendak masuk ke dalam kamar.
Menggeliat sebentar akhirnya “Rangga” mengangkat kepalanya dan terduduk di atas kasur kapuk tanpa ranjang yang menjadi sahabat mimpinya. Mungkin kalau kasur tersebut diberi kekuasaan untuk berbicara, dia pun akan berucap “selamat pagi…!”.
Akhirnya kesempurnaan cahaya membantu pandangan mata “Ki Seto” untuk kesekian kalinya bangga melihat ketampanan cucu nya. Badannya yang tegap, kulitnya yang putih bersih, rambut pendeknya yang hitam ikal, bulu mata yang lentik, janggutnya rapi, sedikit kumis menghiasi atas bibirnya yangmerah sempurna, tidak tebal dan tidak pula tipis. Semuanya memperindah wajah lonjongnya.
Ki Seto : (dalam hati) “seperti bercermin pada diri sendiri…he he..”
Namun senyuman bibirnya tak dapat disembunyikan, tertangkap jelas oleh cucu nya “Rangga”
Rangga : “met pagi juga, Kek..!
Ada apa, Kek?”
Ki Seto : “tidak apa-apa, sudah sana mandi, Shalat Shubuh”
Ya, seperti itulah aktifitas setiap pagi di Pondok Pesantren milik Ki Seto. Jam dinding menunjukkan pukul 04’00 WIB. Suasana diluar Pondok masih sepi, jangkrik pun masih enggan mengakhiri lagunya. Tapi, masjid di Pondok sudah ramai dengan para Santri yang mengaji, menunggu menyambut kedatangan waktu Shalat shubuh. Tepat pukul 05’30 WIB, adzan menggema ke seantero Pondok, mendadak ramai dan cahaya putih memantul dari seragam putih para jama’ah membentuk siluet dan pendaran cahaya yang menembus cakrawala pagi itu.
Pondok Pesantren Ki Seto tak besar, hanya mampu menampung sekitar 300 orang Santri, sebagian besar Santri laki-laki. Bangunannya pun sudah tua, tak Nampak adanya modernisasi. Bukan karena ajaran garis keras tapi, semata karena Ki Seto ingin menanamkan jiwa sederhana pada para Santrinya. Letaknya agak jauh dari perkampungan warga, dikelilingi oleh perbukitan dari kaki Gunung Sanggabuana, hanya bagian depan Pondok ada jalan setapak menuju perkampungan. Jalan setapak yang berbatu dan belum sempurna dengan aspal. Warga menyebut Pondok Pesantren tersebut dengan istilah Pondok Ki Seto, nama seorang guru besarnya yang sangat dihormati dan disegani oleh para Santrinya dan warga sekitar perkampungan tersebut, bahkan nama Ki Seto sudah tak asing lagi bagi tetangga kampung lain…..mungkin selain dunia manusia pun begitu adanya.
********
Gunung Sanggabuana ratusan tahun silam adalah tempat yang paling ingin dijauhi oleh manusia. Bahkan menyebut namanya pun sebuah pantangan bagi warga sekitar kaki Gunung Sanggabuana. Konon, tak pernah ada yang selamat jika ada orang yang memasuki kawasan Gunung Sanggabuana, pasti hilang dan tak pernah terlihat lagi batang hidungnya. Menurut warga sekitar kaki Gunung, Itupun masih dibilang beruntung. Karena kebanyakan tubuh orang tersebut hancur tercabik-cabik, terbelah sekian bagian, dengan organ tubuh yang berceceran membusuk setelah memasuki kawasan Gunung Sanggabuana. Entah mahluk apa yang tega berbuat demikian.
Dari cerita yang berhembus secara turun temurun, bahwa di Pusat Titik Gunung sanggabuana terdapat sebuah kerajaan Jin yang luar biasa besar dan dengan komunitas Jin yang sangat banyak. Yang secara penuh dikuasai oleh Raja nya yang bernama “Jin Alas Waru”.
Ilmu “Jin Alas Waru” sangat sakti luar biasa hingga dia sangat digdaya di komunitas bangsanya di seluruh jagat ini. Kesaktian yang luar biasa itulah yang membuatnya tidak bisa dihentikan ketika pada suatu masa, dengan segenap pasukannya membabi buta membumi hanguskan perkampungan sekitar kaki Gunung Sanggabuana. Tanpa ampun dia membantai siapapun manusia yang ditemuinya. Entah apa motif dan tujuannya.
Korban dari pada komunitas Aliran Putih, baik itu Bangsa Manusia maupun Bangsa Jin tak sedikit yang berjatuhan ketika hendak menghentikan aksinya tersebut. Bahkan seperti tak terhadang lagi, dengan mulus “Jin Alas Waru” dan ribuan pasukannya menghabisi ratusan kampung dan membantai ribuan manusia tak berdosa.
Sungguh setelah kejadian itu, aura kebengisannya membuat Gunung Sanggabuana menjadi sangat angker. Malam-malam di kaki Gunung Sanggabuana sangat mencekam, siang pun tak banyak membantu. Tak banyak orang yang berani, walaupun hanya menyebut namanya. Nama “Jin Alas Waru”.
Namun, keganjilan tersebut masih saja dimanfaatkan oleh orang-orang yang tak berhati nurani dan tak punya iman. Mereka memuja Sang Raja Jin dan menyembahnya. Di jadikannya Sang Raja Jin sebagai Tuhan mereka. Hingga para penganut aliran hitam menjamur disekitar kaki Gunung Sanggabuana. Dan tersebutlah daerah tersebut sebagai titik pusat kegiatan Ilmu hitam.
Waktu berjalan demikian lama, hingga kabut Hitam berselimut begitu tebal. Hingga pada suatu saat muncul lah 7 orang Kyai dari negeri seberang menginjakkan kaki di tempat itu, Kaki Gunung Sanggabuana. Dengan kelibat sorban dan cahaya kesejukan, perlahan – lahan para penganut ilmu hitam tersadarkan dan ada pula yang kalah terbunuh ketika mencoba bertarung dengan 7 orang Kyai tersebut.
Sebut saja namanya “Kyai Fadlillah Umam”, sebagai pemimpin dan salah satu dari 7 Kyai tersebut. Berjalan dengan mantap dan pasti, bersama ke 6 Kyai lainnya memasuki kawasan Gunung Sanggabuana. Puluhan bahkan ratusan Bangsa Jin tak mampu menghadang mereka, para pemuja dari Komunitas Hitam pun demikian adanya. Hingga sampailah ke 7 Kyai tersebut ke pusat titik Gunung Sanggabuana.
Disambut dengan gumpalan kabut hitam, akhirnya ke 7 Kyai menemukan jalan langsung menuju Istana Raja “Jin Alas Waru”. Siapa sangka telah siap sekitar jutaan pasukan Jin menghadang didepan Istana tersebut. Melihat pemandangan tak menyenangkan tersebut, ke 6 Kyai sahabat “Kyai Fadlillah Umam” meretas dan berubah menjadi jutaan pasukan Jin berpakaian serba putih, Pasukan Jin Muslim. Peperangan tak terelakkan lagi, serang menyerang terjadi di depan halaman Istana “Raja Jin Alas Waru”, komando dari ”Raja Jin Alas Waru” mengisyaratkan menyerang sampai mati.
Kini tinggal ”Raja Jin Alas Waru” dan “Kyai Fadlillah Umam”. Kedua mahluk dengan kesaktian luar biasa ini bertarung mengeruk Bumi, menyayat langit dan menyeruak Jagat. Dentuman memekikan telinga dan menggetarkan Sukma terdengar sampai Kaki Gunung Sanggabuana, bahkan Bumi pun tak sanggup menadahnya sampai berkali-kali longsong dan gempa terjadi, langit pun demikian adanya, enggan menaungi arogansi pertarungantersebut, serta merta mengirim awan hitam pekat diatas arena pertempuran tersebut. Warga sekitar kaki gunung berduyun-duyun meninggalkan rumah mereka, menuju tempat yang lebih aman.
Cambuk petir ”Raja Jin Alas Waru” hamper saja mengenai lengan kiri “Kyai Fadlillah Umam”, namun dengan cekatan “Kyai Fadlillah Umam” menghindar sembari menghunuskan “Pedang Sinar Illahi” nya. Namun itu pun hanya mengenai pepohonan sekitar, hingga luluh lantah, hangus menjadi arang dan abu.
Silih serang berlangsung sampai hari ketiga, kini mereka berdua sudah berada setingginya di atas awan, memecah kepekatan warnanya dengan aneka percikan api dan kilauan kilat. Sementara pertarungan jutaan pasukan dibawah semakin berkurang, kini pun dengan ribuan tubuh bergelimpangan sebagai pijakan kaki mereka.
Memasuki hari ketujuh, gemuruh serangan mulai sedikit padam, pasukan di darat semakin berkurang. Namun semangat serang diatas awan semakin hebat. Sekali lagi berkat pertolongan Yang Maha Kuasa, “Kyai Fadlillah Umam” berhasil luput dari ribuan kilatan “cambuk petir” namun begitu, tak ayal lagi kaki kanannya tersambar ketika dengan nekat “sang Kyai” berhasil masuk ke jantung pertahanan “sang Raja Jin”. “Pedang Sinar Illahi” menancap pas didada “Sang Raja Jin Alas Waru” hingga tembus ke punggungnya. Berbarengan dengan itu kontan terdengar suara gemuruh teriakan pesakitan “sang raja Jin Alas Waru” diikuti gemuruh teriakan kemenangan pasukan Jin Putih dari darat dan keheningan diantara para pasukan Jin Hitam. Melihat tuannya terjatuh mendebam ke darat, pasukan Jin Hitam lari kocar-kacir ke segala arah. Tanpa pesan terakhir, “Sang Raja Jin alas Waru” menghembuskan napasnya yang terakhir. Diikuti ratusan sujud syukur dari para pasuka Jin Putih, tak lama “Sang Kyai Fadlillah Umam”. Turun ke darat dan langsung memanjatkan syukur kehadirat Illahi yang telah membantu memenangkan pertarungan dahsyat ini.
Melihat pasukannya kocar-kacir, Seisi Istana “Raja Jin alas Waru” keluar, hendak melihat apa yang terjadi. Kekecewaan dan ketakutan tampak terlihat dari rona wajah mereka, ada yang kabur, ada yang langsung sujud tanda menyerah, ada pula yang bertahan dengan ego nya menantang maut dengan aura kemenangan pasukan Jin Putih.
Kemudian, berjalan paling depan “Kyai Fadlillah Umam” menemui sang ratu. Menyerahkan jasad suaminya “Sang Raja Jin alas Waru”. Disertai air mata sang ratu menerima suaminya dalam keadaan tanpa nyawa. Sang kyai berjanji tidak akan menyakiti sang Ratu dan keluarganya asalkan memenuhi beberapa persyaratan yang “Kyai Fadlillah Umam” ajukan. Mereka atas nama perwakilan dari komunitasnya masing-masing mengadakan perjanjian.
Semenjak itu, keadaan Kaki gunung Sanggabuana menjadi aman dan tentram. Bahkan sudah banyak yang berhasil sampai ke titik pusat Gunung Sanggabuana dan pulang tanpa cacat sama sekali. Namun, berita tentang keluarga “Kyai Fadlillah Umam” di negeri seberang, tercium oleh para pasukan Jin Hitam yang masih menyimpan dendam. Tak ayal terjadi pembantaian, semua keluarga “Kyai Fadlillah Umam” terbunuh, kecuali anak gadis “Kyai Fadlillah Umam” sempat tertolong setelah datang Pasukan Putih utusan dari “Kyai Fadlillah Umam”.
Mendengar kejadian tersebut, “Kyai Fadlillah Umam” murka. Namun, dia masih punya belas kasihan, dan kebijaksanaan yang terakhir. Dia lalu hanya menyegel Istana Raja Jin Alas Waru, hingga seluruh penghuni Istana tersebut tidak bisa keluar dari wilayah Gunung Sanggabuana.
Kyai Fadlillah Umam : “Dengan catatan, apabila kau langgar lagi perjanjian ini. Satu orang saja
siapapun itu, bertemu dengan salah satu penghuni Istana ini atau pasukan
Hitam mu. Maka, Belas kasih ku sudah habis. Ingat itu Ratu…!”
Kemudian untuk menjaga terjadinya pelanggaran dari perjanjian tersebut, “Kyai Fadlillah Umam” mendirikan sebuah Pondok Pesantren di Kaki Gunung Sanggabuana, tepatnya di gerbang jalan menuju titik pusat Gunung sanggabuana.
Warga sekitar lebih nyaman menyebut “Kyai Fadlillah Umam” dengan sebutan Ki Seto karena kebaikan dan belas kasihannya yang luar biasa, bahkan pada hewan sekalipun. Dan kondisi terkendali tersebut berlangsung cukup lama hingga saat ini, tepatnya 60 tahun.
Selamat Idul Fitri
-
Segenap Alumni dan almamater SMAN 1 Cikampek (Sachie) mengucapkan :
*Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1431 H*
Kembali kepada hari - hari yang fitrah
Kembali kepa...