bilik27

handsomebee

bilik27

handsomebee

bilik27

handsomebee

bilik27

handsomebee

bilik27

handsomebee

Tampilkan postingan dengan label Tentang Karawang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang Karawang. Tampilkan semua postingan

Napak Tilas Jalur Kereta Api Di Karawang

Sejak jaman dahulu, Kereta Api dianggap salah satu alat transportasi yang cukup efektif. Tidak mengenal macet, bisa membawa penumpang dan barang dengan jumlah yang lebih banyak. Oleh sebab itu, Belanda dengan sistem kerja rodinya berusaha keras untuk membuat jalan-jalan yang membentang dari barat Pulau Jawa hingga timur Pulau Jawa dan salah satunya adalah jalan Kereta Api.

Di Karawang, Jalur Kereta Api Karawang – Rengasdengklok merupakan salah satu jalur kereta api peninggalan Belanda. Tidak ada yang tahu pasti kapan jalur tersebut dibangun, karena beberapa saksi mata yang masih hidup ketika ditemui menyatakan bahwa sejak mereka lahir jalur kereta tersebut sudah ada.

Rute KA Karawang – Rengasdengklok ini bermula dari Stasiun Karawang, kearah timur menuju arah Pasar Johar, lalu belok kiri sebelum perempatan Johar ke arah Lamaran. Nah, di daerah inilah Jalur Karawang – Rengasdengklok berpisah dengan jalur Karawang – Lemahabang (LA) Wadas. Rute yang kearah Lemahabang Wadas inilah yang cukup panjang, karena dari LA Wadas masih terus berlanjut ke selatan hingga ke Cikampek . Tidak hanya sampai disitu, di Cikampek jalur ini beriringan dengan jalur KA yang ada sekarang (Jakarta – Surabaya), Pangulah, Jatisari, hingga titik persimpangan/pertigaan jalur Pantura yang menuju Cilamaya. Dari titik ini rel berlanjut ke arah utara via Jatiragas.
Sementara itu, dari Lamaran jalur kereta api ini berlanjut ke Taneuh Beureum kemudian Tegal Sawah, Rawaleutik dan Rawagede. Stasiunnya sendiri terdapat di Tegal Sawah dan Rawagede. Stasiun kecil yang terbuat dari kayu jati dengan bentuk bangunan yang tinggi.
Jangan pernah membayangkan stasiun tersebut seperti stasiun yang ada di Jakarta Kota dan Tanjung Priok yang sama-sama buatan Belanda yang besar dan megah. Dan, jangan pernah pula membayangkan kecepatan kereta tersebut dengan kecepatan kereta-kereta jaman sekarang. Kereta api Karawang-Dengklok ini kecepatannya hanya 20-30 km/jam maksimal. Jadi kalau kita kejar dengan berlari, maka kereta api tersebut akan terkejar.
Stasiun Kereta Api Jaman BelandaKarena geraknya yang lambat, banyak masyarakat sekitar tidak pernah naik melalui stasiun yang telah disediakan. Mereka lebih senang menunggu di pinggir sawah yang nantinya akan dilewati kereta. Apabila kereta tersebut datang, mereka dengan mudahnya naik ke atas kereta tersebut.  Dengan naik bukan dari stasiun tersebut, otomatis mereka tidak membeli tiket. Hal itulah yang menjadi salah satu faktor gulung tikarnya kereta api jurusan Karawang Dengklok tersebut kelak dikemudian hari.

Pada awal tahun 1970an rangkaian kereta api Karawang-Dengklok berhenti melakukan operasinya karena alasan merugi. Semua fasilitas ditarik ke Kantor Kereta Api Karawang (PT KAI). Fasilitas yang tersisa seperti rel, bekas stasiun dibiarkan tidak terurus bertahun tahun. Lama-lama, tangan-tangan jahil mulai mengambil barang-barang milik PT KAI tersebut. Mulai dari rel yang bisa mereka gunakan untuk membangun rumah sebagai fondasi dan berbagai macam keperluan lainnya, hingga kayu bantalan kereta juga mereka ambil. Tidak ketinggalan, bekas stasiun juga akhirnya menjadi target terakhir yang di rusak.  
(Agus Kusmawan)

Sejarah Singkat Karawang

Sekitar Abad XV Masehi, Agama Islam masuk ke Karawang yang dibawa oleh ulama besar Syeikh Hasanudin bin Yusup Idofi dari Champa yang terkenal dengan sebutan Syeikh Quro. Pada masa itu daerah Karawang sebagian besar masih merupakan hutan belantara dan berawa-rawa.

Keberadaan daerah Karawang yang telah dikenal sejak Kerajaan Padjadjaran yang berpusat di Daerah Bogor, karena Karawang pada masa itu merupakan jalur lalu lintas yang sangat penting untuk menghubungkan Kerajaan Pakuan Padjadjaran dengan Galuh Pakuan yang berpusat di Daerah Ciamis.

Luas Wilayah Kabupaten Karawang pada saat itu, tidak sama dengan luas Wilayah Kabupaten Karawang pada masa sekarang. Pada waktu itu luas Wilayah Kabupaten Karawang meliputi Bekasi, Purwakarta, Subang dan Karawang sendiri .

Setelah Kerajaan Padjadjaran runtuh pada tahun 1579 Masehi, pada tahun 1580 Masehi berdiri Kerajaan Sumedanglarang sebagai penerus Kerajaan Padjadjaran dengan Rajanya Prabu Geusan Ulun. Kerajaan Islam Sumedanglarang, pusat pemerintahannya di Dayeuhluhur dengan membawahi Sumedang, Galuh, Limbangan,Sukakerta dan Karawang.

Pada tahun 1608 Prabu Geusan Ulun wafat dan digantikan oleh putranya Ranggagempol Kusumahdinata. Pada masa itu di Jawa Tengah telah berdiri Kerajaan Mataram dengan Rajanya Sultan Agung (1613 - 1645). Salah satu cita-cita Sultan Agung pada masa pemerintahannya adalah dapat menguasai Pulau Jawa dan mengusir Kompeni (Belanda) dari Batavia.

Ranggagempol Kusumahdinata sebagai Raja Sumendanglarang masih mempunyai hubungan keluarga dengan Sultan Agung dan mengakui kekuasaan Mataram. Maka pada Tahun 1620, Ranggagempol Kusumahdinata menghadap ke Mataram dan menyerahkan kerajaan Sumedanglarang di bawah naungan Kerajaan Mataram.

Ranggagempol Kusumahdinata oleh Sultan Agung diangkat menjadi Bupati (Wadana) untuk tanah Sunda dengan batas-batas wilayah disebelah Timur Kali Cipamali, disebelah Barat Kali Cisadane, disebelah Utara Laut Jawa, dan disebelah Selatan Laut Kidul.

Pada Tahun 1624 Ranggagempol Kusumahdinata wafat, dan sebagai penggantinya Sultan Agung mengangkat Ranggagede, Putra Prabu Geusan Ulun.

Ranggagempol II, putra Ranggagempol Kusumahdinata yang semestinya menerima tahta kerajaan, merasa disisihkan dan sakit hati. Kemudian beliau berangkat ke Banten untuk meminta bantuan Sultan Banten agar dapat menaklukkan Kerajaan Sumedanglarang dengan imbalan apabila berhasil, maka seluruh wilayah kekuasaan Sumedanglarang akan diserahkan kepada Banten.

Sejak itu banyak tentara Banten yang dikirim ke Karawang terutama di sepanjang Sungai Citarum, di bawah Pimpinan Sultan Banten bukan saja untuk memenuhi permintaan Ranggagempol II, Tetapi merupakan awal usaha Banten untuk menguasai Karawang sebagai persiapan merebut kembali pelabuhan Banten yang telah dikuasai oleh Kompeni (Belanda), yaitu pelabuhan Sunda Kelapa.

Masuknya tentara Banten ke Karawang beritanya telah sampai ke Mataram. Pada Tahun 1624, Sultan Agung mengutus Surengrono (Aria Wirasaba) dari Mojo Agung, Jawa Timur untuk berangkat ke Karawang dengan membawa 1000 Prajurit dengan keluarganya, dari Mataram melalui Banyumas dengan tujuan untuk membebaskan Karawang dari pengaruh Banten, mempersiapkan logistik dengan membangun gudang-gudang beras dan meneliti rute penyerangan Mataram ke Batavia.

Langkah awal yang dilakukan Aria Surengrono adalah dengan mendirikan 3 (tiga) Desa yaitu Waringinpitu (Telukjambe), Desa Parakansapi (di Kecamatan Pangkalan yang sekarang telah terendam Waduk Jatiluhur) dan Desa Adiarsa (Sekarang ternlasuk di Kecamatan Karawang Barat), dengan pusat kekuatan di ditempatkan di Desa Waringinpitu.

Karena jauh dan sulitnya hubungan antara Karawang dengan Mataram, Aria Wirasaba belum sempat melaporkan tugas yang sedang dilaksanakan kepada Sultan Agung. Keadaan ini menjadikan Sultan Agung mempunyai angqapan bahwa tuqas yang diberikan kepada Aria Wirasaba gagal dilaksanakan.

Demi menjaga keselamatan Wilayah Kerajaan Mataram sebelah barat, pada tahun 1628 dan 1629, bala tentara Kerajaan Mataram diperintahkan Sultan Agung untuk melakukan penyerangan terhadap VOC (Belanda) di Batavia. Namun serangan ini gagal disebabkan keadaan medan yang sangat berat. Sultan Agung kemudian menetapkan Daerah Karawang sebagai pusat logistik yang harus mempunyai pemerintahan sendiri dan langsung berada dibawah pengawasan Mataram serta harus dipimpin oleh seorang pemimpin yang cakap dan ahli perang sehingga mampu menggerakkan masyarakat untuk membangun pesawahan guna mendukung pengadaan logistik dalam rencana penyerangan kembali terhadap VOC (belanda) di Batavia.

Pada tahun 1632, Sultan Agung mengutus kembali Wiraperbangsa Sari Galuh dengan membawa 1.000 prajurit dengan keluarganya menuju Karawang. Tujuan pasukan yang dipimpin oleh Wiraperbangsa adalah membebaskan Karawang dari pengaruh Banten, mempersiapkan logistik sebagai bahan persiapan melakukan penyerangan terhadap VOC (Belanda) di Batavia, sebagaimana halnya tugas yang diberikan kepada Aria Wirasaba yang dianggap gagal.

Tugas yang diberikan kepada Wiraperbangsa dapat dilaksanakan dengan baik dan hasilnya langsung dilaporkan kepada Sultan Agung. Atas keberhasilannya Wiraperbangsa oleh Sultan Agung dianugrahi jabatan Wedana (Setingkat Bupati) di Karawang dan diberi gelar Adipati Kertabumi III serta diberi hadiah sebilah keris yang bernama "Karosinjang".

Setelah penganugrahan gelar tersebut yang dilakukan di Mataram, Wiraperbangsa bermaksud akan segera kembali ke Karawang, namun sebelumnya beliau singgah dahulu ke Galuh untuk menjenguk keluarganya.Atas takdir IIlahi Beliau kemudian wafat saat berada di Galuh.

Setelah Wiraperbangsa Wafat, Jabatan Bupati di Karawang dilanjutkan oleh putranya yang bernama Raden Singaperbangsa dengan gelar Adipati Kertabumi IV yang memerintah pada tahun 1633-1677.

Pada abad XVII kerajaan terbesar di Pulau Jawa adalah Mataram, dengan raja yang terkenal yaitu Sultan Agung Hanyokrokusumo. la tidak menginginkan wilayah Nusantara diduduki atau dijajah oleh bangsa lain dan ingin mempersatukan Nusantara.

Dalam upaya mengusir VOC yang telah menanamkan kekuasaan di Batavia, Sultan Agung mempersiapkan diri dengan terlebih dahulu menguasai daerah Karawang, untuk dijadikan sebagai basis atau pangkal perjuangan dalam menyerang VOC.

Ranggagede diperintahnya untuk mempersiapkan bala tentara/prajurit dan logistik dengan membuka lahan-Iahan pertanian, yang kemudian berkembang menjadi lumbung padi.

Tanggal 14 September 1633 Masehi, bertepatan dengan tanggal 10 Maulud 1043 Hijriah, Sultan Agung melantik Singaperbangsa sebagai Bupati Karawang yang pertama, sehingga secara tradisi setiap tanggal 10 Maulud diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten Karawang.

Berawal dari sejarah tersebut dan perjuangan persiapan proklamasi kemerdekaan RI, Karawang lebih dikenal dengan julukan sebagai kota pangkal perjuangan dan daerah lumbung padi Jawa Barat.

Pemutakhiran Terakhir ( Saturday, 14 June 2008 )