Sejarah Perayaan Tahun Baru

     

Sedikit terlambat memang membahas Tahun Baru setelah 23 hari berlalu, tapi saya yakin diantara sahabat ada yang masih belum tahu sejarah nya. Padahal setiap tahun tidak pernah absen kongkow dan melek bareng kawan-kawan untuk menunggu waktu pukul : 00.00, yang diiukuti gemuruh cetar-cetir kembang api di udara, menandakan pesta perayaan Tahun Baru dimulai.  

Tahukah Agan n Aganwati ? kalau Perayaan tahun baru merupakan perayaan tertua di dunia. Namun, di masa Babylon kuno silam, tahun baru tidak dimulai pada awal Januari.


Perayaan tahun baru era Babylon kuno 2000 tahun sebelum masehi diawali pada musim semi, tepatnya akhir Maret menurut penanggalan modern. Penetapan ini berdasarkan anggapan bahwa musim semi adalah masa memulai lembaran baru. Ketika itu, masyarakat di zaman Babylon kuno merayakan tahun baru selama sebelas hari berturut-turut.


Kebiasaan ini berlanjut di Kekaisaran Romawi. Namun, karena pergantian beberapa kaisar, maka penanggalan ala Romawi menyesuaikan dengan rotasi matahari. Di tahun 153 sebelum masehi, Kekaisaran Romawi menetapkan 1 Januari sebagai awal tahun baru.


Namun sumber lain mengatakan bahwa Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM (Sebelum Masehi). Perayaan tersebut terjadi tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM menjadi kalender Julian (atau kalender Julius).
Dengan demikian, perayaan tersebut sejatinya bukan untuk merayakan tahun baru (1 Januari), melainkan untuk merayakan pergantian penanggalan tradisional Romawi menjadi kalender baru buatan Julius Caesar, sekaligus merayakan penobatan Julius Caesar menjadi kaisar Roma.

          Julius Ceasar

Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir.
Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari (setara dengan 12 bulan) dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari.
Awalnya penanggalan tradisional Romawi dimulai pada tanggal 1 Maret dengan jumlah hari sebanyak 304 hari atau setara dengan 10 bulan. Adapun nama-nama bulan pada kalender tradisional Romawi adalah:
  1. Martius,

  2. Aprilis,

  3. Maius,

  4. Junius,

  5. Quintilis,

  6. Sextilis,

  7. September,

  8. October,

  9. November, dan

  10. December.
Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Itulah penyebabnya mengapa ada tahun kabisat (bulan Februari berjumlah 29 hari) dan tahun biasa (bulan Februari berjumlah 28 hari).
Adapun mengenai perubahan nama bulan ke-7 dan ke-8 menjadi bulan Juli dan Agustus ceritanya adalah sebagai berikut. Tidak lama sebelum (Julius) Caesar terbunuh pada tahun 44 SM, dia (Caesar) mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Lalu, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus. Dengan demikian, nama-nama bulan pada kalender Julian ini menjadi:
  1. Januarius (January)

  2. Februarius (February)

  3. Martius (March)

  4. Aprilis (April)

  5. Maius (May)

  6. Junius (June)

  7. Quintilis, diganti menjadi: Julius (July)

  8. Sextilis, diganti menjadi: Augustus (August)

  9. September (September)

  10. October (October)

  11. November (November)

  12. December (December)



Jadi, ternyata perayaan tahun baru sudah dilaksanakan sebelum tahun 1 Masehi. Lalu bagaimana dengan penetapan pergantian tahun ‘SM’ (Sebelum Masehi) menjadi tahun ‘M’ (Masehi)???

Kalender Masehi adalah kalender yang mulai digunakan oleh umat Kristen awal. Mereka berusaha menetapkan tahun kelahiran Yesus atau Isa sebagai tahun permulaan (tahun 1). Namun untuk penghitungan tanggal dan bulan mereka mengambil kalender bangsa Romawi yang disebut kalender Julian — kalender buatan Julius Caesar — (yang tidak akurat) yang telah dipakai sejak 45 SM.
Mereka (umat Kristen awal) hanya menetapkan tahun 1 untuk permulaan era ini. Perhitungan tanggal dan bulan pada Kalender Julian lalu disempurnakan lagi pada tahun pada tahun 1582 menjadi kalender Gregorian. Penanggalan ini kemudian digunakan secara luas di dunia untuk mempermudah komunikasi.
Kata Masehi (disingkat M) dan Sebelum Masehi (disingkat SM) berasal dari bahasa Arab (المسيح), yang berarti “yang membasuh,” “mengusap” atau “membelai.”
Dalam bahasa Inggris penanggalan ini disebut “Anno Domini” / AD (dari bahasa Latin yang berarti “Tahun Tuhan kita”) atau Common Era / CE (Era Umum) untuk era Masehi, dan “Before Christ” / BC (sebelum [kelahiran] Kristus) atau Before Common Era / BCE (Sebelum Era Umum).
Jadi, awal tahun Masehi ini merujuk kepada tahun yang dianggap sebagai tahun kelahiran Nabi Isa Al-Masih. Oleh karena itu, kalender ini dinamakan menurut (nama) Yesus atau Masihiyah (Mesiah, Mesias, Messiah, atau Mashiach). Sementara itu, istilah Sebelum Masehi (SM) merujuk pada masa sebelum tahun tersebut.
Adapun bagi sebagian besar orang non-Kristen (umat agama lainnya) biasanya mempergunakan singkatan M dan SM ini tanpa merujuk (mengarah) kepada konotasi Kristen tersebut.

Sama seperti saat ini, warga Kekaisaran Romawi merayakan tahun baru dengan berpesta, mendekorasi rumah dan bertukar kado. Tahun baru juga dijadikan ajang memperingati salah satu dewa Romawi.


Perayaan ala Romawi membuat memicu pertentangan gereja katolik. Namun dengan semakin berkembangnya perayaan tahun baru di berbagai daerah, pihak gereja akhirnya ikut menetapkan 1 Januari sebagai tahun baru pada 1582.


Walau memiliki latar belakang berbeda, namun perayaan tahun baru dari zaman kuno hingga saat ini tetap memiliki makna sama, yakni bersyukur akan tahun lalu dan menyambut tahun baru dengan optimis. 


*dari berbagai sumber

0 komentar: