bilik27

handsomebee

bilik27

handsomebee

bilik27

handsomebee

bilik27

handsomebee

bilik27

handsomebee

RANGGA DAN ANDINI

Karya : Dendy “Pelukis Awan”

Perlahan jari-jari dingin merayap menyelimuti peraduan udara, sang embun dengan serdadunya bergerilya memecahkan kebosanan suasana, membangunkan waktu yang tertidur. Gerak gemulai layaknya sang penari, tak terelakkan lagi redup ceria wajahnya memandang arogansi sang mentari, sang rembulan mengalah memucat perlahan memudar dan tertutup sama sekali.
Bersamaan dengan itu terdengar suara membahana semesta, menggema, yang mengalun lembut, sebuah irama yang membelai dan menampar, kumandang Adzan Shubuh. tampak sebelum pergi, dari balik awan rembulan menyaksikan barisan kecil berwarna putih bergerak terburu menuju satu titik, dimana sumber suara nyaring terdengar yang sudah tak asing lagi baginya, suara itulah yang tiap kali mengiringi kedatangan dan kepergiannya.
Bukan sang mentari namanya jika tak mampu menguasai suasana saat itu. Segera saja dia usir embun dan serdadunya,  dia tajamkan matanya hingga rembulan bersembunyi di balik awan yang jauh. Sorot sangar matanya sangar, penuh keyakinan, dan  dengan takut kehilangan setiap inchi nya perlahan – lahan mengawasi  dan memerdekakan semua tempat dari penjajahan kegelapan. Dia tersenyum menandakan kepuasan yang sangat, dia tebarkan kehangatan, menandakan kehidupan akan segera dimulai. Dia ucapkan “selamat pagi”…..seperti biasa.
Ucapan itu pulalah yang seperti biasanya keluar dari mulut seorang kakek kepada cucu satu-satunya dan kesayangannya, ketika fajar tiba.
Seorang kakek yang sudah sanagat renta, namun masih tegap, dan kokoh memijak bumi. Namun, keriput diwajahnya tak bisa disembunyikan lagi, sang kakek menyerah pada waktu ketika usianya sekarang beranjak 90 tahun. Warga sekitar menyebutnya “Ki Seto” dan dia menamakan cucu kesayangannya “Rangga”.
Ki Seto                  : “selamat pagi, Nak..!”
Bulan depan “Rangga” menginjak usia 20 tahun, sudah sempurna pertumbuhan rambutnya, sedikit sekali menghiasi atas bibirnya namun lebat dibawah dagunya. Rambutnya pendeknya ikal berwarna hitam. Seketika dia terbangun ketika mendengar ucapan kakeknya, matanya terbelalak, jelas sekali berwarna kebiruan. Senyum sang kakek menebar wangi diruang kamar sempi ukuran 4x6 m. Setelah mengerti cucunya sudah terbangun dari mimpi indahnya, “Ki Seto” beranjak menuju jendela kamar yang letaknya berseberangan tak jauh dari tempat tidur “Rangga”. Suara berdecit terdengar jelas ketika “Ki Seto” mendorong jendela yang berbahan dasar kayu dan agak keropos, lubang petilasan rayap Nampak diseluruh permukaannya. Engsel nya agak miring kebawah ketika “Ki Seto” menyempurnakan cahaya yang berebut hendak masuk ke dalam kamar.
Menggeliat sebentar akhirnya “Rangga” mengangkat kepalanya dan terduduk di atas kasur kapuk tanpa ranjang yang menjadi sahabat mimpinya. Mungkin kalau kasur tersebut diberi kekuasaan untuk berbicara, dia pun akan berucap “selamat pagi…!”.
Akhirnya kesempurnaan cahaya membantu pandangan mata “Ki Seto” untuk kesekian kalinya bangga melihat ketampanan cucu nya. Badannya yang tegap, kulitnya yang putih bersih, rambut pendeknya yang hitam ikal, bulu mata yang lentik, janggutnya rapi, sedikit kumis menghiasi atas bibirnya yangmerah sempurna, tidak tebal dan tidak pula tipis. Semuanya memperindah wajah lonjongnya.
Ki Seto                  : (dalam hati) “seperti  bercermin pada diri sendiri…he he..”
Namun senyuman bibirnya tak dapat disembunyikan, tertangkap jelas oleh cucu nya “Rangga”
Rangga                 : “met pagi juga, Kek..!
                                    Ada apa, Kek?”
Ki Seto                  : “tidak apa-apa, sudah sana mandi, Shalat Shubuh”
Ya, seperti itulah aktifitas setiap pagi di Pondok Pesantren milik Ki Seto. Jam dinding menunjukkan pukul 04’00 WIB. Suasana diluar Pondok masih sepi, jangkrik pun masih enggan mengakhiri lagunya. Tapi, masjid di Pondok sudah ramai dengan para Santri yang mengaji, menunggu menyambut kedatangan waktu Shalat shubuh. Tepat pukul 05’30 WIB, adzan menggema ke seantero Pondok, mendadak ramai dan cahaya putih memantul dari seragam putih para jama’ah membentuk siluet dan pendaran cahaya yang menembus cakrawala pagi itu.
Pondok Pesantren Ki Seto tak besar, hanya mampu menampung sekitar 300 orang Santri, sebagian besar Santri laki-laki. Bangunannya pun sudah tua, tak Nampak adanya modernisasi. Bukan karena ajaran garis keras tapi, semata karena Ki Seto ingin menanamkan jiwa sederhana pada para Santrinya. Letaknya agak jauh dari perkampungan warga, dikelilingi oleh perbukitan dari kaki Gunung Sanggabuana, hanya bagian depan Pondok ada jalan setapak menuju perkampungan. Jalan setapak yang berbatu dan belum sempurna dengan aspal. Warga menyebut Pondok Pesantren tersebut dengan istilah Pondok Ki Seto, nama seorang guru besarnya yang sangat dihormati dan disegani oleh para Santrinya dan warga sekitar perkampungan tersebut, bahkan nama Ki Seto sudah tak asing lagi bagi tetangga kampung lain…..mungkin selain dunia manusia pun begitu adanya.
                                                                                                                 
********

Gunung Sanggabuana ratusan tahun silam adalah tempat yang paling ingin dijauhi oleh manusia. Bahkan menyebut namanya pun sebuah pantangan bagi warga sekitar kaki Gunung Sanggabuana. Konon, tak pernah ada yang selamat jika ada orang yang memasuki kawasan Gunung Sanggabuana, pasti hilang dan tak pernah terlihat lagi batang hidungnya. Menurut warga sekitar kaki Gunung, Itupun masih dibilang beruntung. Karena kebanyakan tubuh orang tersebut hancur tercabik-cabik, terbelah sekian bagian, dengan organ tubuh yang berceceran membusuk setelah memasuki kawasan Gunung Sanggabuana. Entah mahluk apa yang tega berbuat demikian.
Dari cerita yang berhembus secara turun temurun, bahwa di Pusat Titik Gunung sanggabuana terdapat sebuah kerajaan Jin yang luar biasa besar dan dengan komunitas Jin yang sangat banyak. Yang secara penuh dikuasai oleh Raja nya yang bernama “Jin Alas Waru”.
Ilmu “Jin Alas Waru” sangat sakti luar biasa hingga dia sangat digdaya di komunitas bangsanya di seluruh jagat ini. Kesaktian yang luar biasa itulah yang membuatnya tidak bisa dihentikan ketika pada suatu masa, dengan segenap pasukannya membabi buta membumi hanguskan perkampungan sekitar kaki Gunung Sanggabuana.  Tanpa ampun dia membantai siapapun manusia yang ditemuinya. Entah apa motif dan tujuannya.
Korban dari pada komunitas Aliran Putih, baik itu Bangsa Manusia maupun Bangsa Jin tak sedikit yang berjatuhan ketika hendak menghentikan aksinya tersebut. Bahkan seperti tak terhadang lagi, dengan mulus “Jin Alas Waru” dan ribuan pasukannya menghabisi ratusan kampung dan membantai ribuan manusia tak berdosa.
Sungguh setelah kejadian itu, aura kebengisannya membuat Gunung Sanggabuana menjadi sangat angker. Malam-malam di kaki Gunung Sanggabuana sangat mencekam, siang pun tak banyak membantu. Tak banyak orang yang berani, walaupun hanya menyebut namanya. Nama “Jin Alas Waru”.
Namun, keganjilan tersebut masih saja dimanfaatkan oleh orang-orang yang tak berhati nurani dan tak punya iman. Mereka memuja Sang Raja Jin dan menyembahnya. Di jadikannya Sang Raja Jin sebagai Tuhan mereka. Hingga para penganut aliran hitam menjamur disekitar kaki Gunung Sanggabuana. Dan tersebutlah daerah tersebut sebagai titik pusat kegiatan Ilmu hitam.
Waktu berjalan demikian lama, hingga kabut Hitam berselimut begitu tebal. Hingga pada suatu saat muncul lah 7 orang Kyai dari negeri seberang menginjakkan kaki di tempat itu, Kaki Gunung Sanggabuana. Dengan kelibat sorban dan cahaya kesejukan, perlahan – lahan para penganut ilmu hitam tersadarkan dan ada pula yang kalah terbunuh ketika mencoba bertarung dengan 7 orang Kyai tersebut.
Sebut saja namanya “Kyai Fadlillah Umam”, sebagai pemimpin dan salah satu dari  7 Kyai tersebut. Berjalan dengan mantap dan pasti, bersama ke 6 Kyai lainnya memasuki kawasan Gunung Sanggabuana. Puluhan bahkan ratusan Bangsa Jin tak mampu menghadang mereka, para pemuja dari Komunitas Hitam pun demikian adanya. Hingga sampailah ke 7 Kyai tersebut ke pusat titik Gunung Sanggabuana.
Disambut dengan gumpalan kabut hitam, akhirnya ke 7 Kyai menemukan jalan langsung menuju Istana Raja “Jin Alas Waru”. Siapa sangka telah siap sekitar jutaan pasukan Jin menghadang didepan Istana tersebut. Melihat pemandangan tak menyenangkan tersebut, ke 6 Kyai sahabat “Kyai Fadlillah Umam” meretas dan berubah menjadi jutaan pasukan Jin berpakaian serba putih, Pasukan Jin Muslim. Peperangan tak terelakkan lagi, serang menyerang terjadi di depan halaman Istana “Raja Jin Alas Waru”, komando dari ”Raja Jin Alas Waru” mengisyaratkan menyerang sampai mati.
Kini tinggal ”Raja Jin Alas Waru” dan “Kyai Fadlillah Umam”. Kedua mahluk dengan kesaktian luar biasa ini bertarung mengeruk Bumi, menyayat langit dan menyeruak Jagat. Dentuman memekikan telinga dan menggetarkan Sukma terdengar sampai Kaki Gunung Sanggabuana, bahkan Bumi pun tak sanggup menadahnya sampai berkali-kali longsong dan gempa terjadi, langit pun demikian adanya, enggan menaungi arogansi pertarungantersebut, serta merta mengirim awan hitam pekat diatas arena pertempuran tersebut. Warga sekitar kaki gunung berduyun-duyun meninggalkan rumah mereka, menuju tempat yang lebih aman.
Cambuk petir ”Raja Jin Alas Waru” hamper saja mengenai lengan kiri “Kyai Fadlillah Umam”, namun dengan cekatan “Kyai Fadlillah Umam” menghindar sembari menghunuskan “Pedang Sinar Illahi” nya. Namun itu pun hanya mengenai pepohonan sekitar, hingga luluh lantah, hangus menjadi arang dan abu.
Silih serang berlangsung sampai hari ketiga, kini mereka berdua sudah berada setingginya di atas awan, memecah kepekatan warnanya dengan aneka percikan api dan kilauan kilat. Sementara pertarungan jutaan pasukan dibawah semakin berkurang, kini pun dengan ribuan tubuh bergelimpangan sebagai pijakan kaki mereka.
Memasuki hari ketujuh, gemuruh serangan mulai sedikit padam, pasukan di darat semakin berkurang. Namun semangat serang diatas awan semakin hebat. Sekali lagi berkat pertolongan Yang Maha Kuasa, “Kyai Fadlillah Umam” berhasil luput dari ribuan kilatan “cambuk petir” namun begitu, tak ayal lagi kaki kanannya tersambar ketika dengan nekat “sang Kyai” berhasil masuk ke jantung pertahanan “sang Raja Jin”. “Pedang Sinar Illahi” menancap pas didada “Sang Raja Jin Alas Waru” hingga tembus ke punggungnya. Berbarengan dengan itu kontan terdengar suara gemuruh teriakan pesakitan “sang raja Jin Alas Waru” diikuti gemuruh teriakan kemenangan pasukan Jin Putih dari darat dan keheningan diantara para pasukan Jin Hitam. Melihat tuannya terjatuh mendebam ke darat, pasukan Jin Hitam lari kocar-kacir ke segala arah. Tanpa pesan terakhir, “Sang Raja Jin alas Waru” menghembuskan napasnya yang terakhir. Diikuti ratusan sujud syukur dari para pasuka Jin Putih, tak lama “Sang Kyai Fadlillah Umam”. Turun ke darat dan langsung memanjatkan syukur kehadirat Illahi yang telah membantu memenangkan pertarungan dahsyat ini.
Melihat pasukannya kocar-kacir, Seisi Istana “Raja Jin alas Waru” keluar, hendak melihat apa yang terjadi. Kekecewaan dan ketakutan tampak terlihat dari rona wajah mereka, ada yang kabur, ada yang langsung sujud tanda menyerah, ada pula yang bertahan dengan ego nya menantang maut dengan aura kemenangan pasukan Jin Putih.
Kemudian, berjalan paling depan “Kyai Fadlillah Umam” menemui sang ratu. Menyerahkan jasad suaminya “Sang Raja Jin alas Waru”. Disertai air mata sang ratu menerima suaminya dalam keadaan tanpa nyawa. Sang kyai berjanji tidak akan menyakiti sang Ratu dan keluarganya asalkan memenuhi beberapa persyaratan yang “Kyai Fadlillah Umam” ajukan. Mereka atas nama perwakilan dari komunitasnya masing-masing mengadakan perjanjian. 
Semenjak itu, keadaan Kaki gunung Sanggabuana menjadi aman dan tentram. Bahkan sudah banyak yang berhasil sampai ke titik pusat Gunung Sanggabuana dan pulang tanpa cacat sama sekali. Namun, berita tentang keluarga “Kyai Fadlillah Umam” di negeri seberang, tercium oleh para pasukan Jin Hitam yang masih menyimpan dendam. Tak ayal terjadi pembantaian, semua keluarga “Kyai Fadlillah Umam” terbunuh, kecuali anak gadis “Kyai Fadlillah Umam” sempat tertolong setelah datang Pasukan Putih utusan dari “Kyai Fadlillah Umam”.
Mendengar kejadian tersebut, “Kyai Fadlillah Umam” murka. Namun, dia masih punya belas kasihan, dan kebijaksanaan yang terakhir. Dia lalu hanya menyegel Istana Raja Jin Alas Waru, hingga seluruh penghuni Istana tersebut tidak bisa keluar dari wilayah Gunung Sanggabuana.
Kyai Fadlillah Umam      : “Dengan catatan, apabila kau langgar lagi perjanjian ini. Satu orang saja
    siapapun itu, bertemu dengan salah satu penghuni Istana ini atau pasukan
    Hitam mu. Maka, Belas kasih ku sudah habis. Ingat itu Ratu…!”
Kemudian untuk menjaga terjadinya pelanggaran dari perjanjian tersebut, “Kyai Fadlillah Umam” mendirikan sebuah Pondok Pesantren di Kaki Gunung Sanggabuana, tepatnya di gerbang jalan menuju titik pusat Gunung sanggabuana.
 Warga sekitar lebih nyaman menyebut “Kyai Fadlillah Umam” dengan sebutan Ki Seto karena kebaikan dan belas kasihannya yang luar biasa, bahkan pada hewan sekalipun. Dan kondisi terkendali tersebut berlangsung cukup lama hingga saat ini, tepatnya 60 tahun.

********

Bersambung (tunggu mood...hehehe...)

Gaara

Akatsuki

Gaara

Naruto dan Tsunade

Naruto

Naruto dan Tsunade

Uciha Sasuke

Domba Hitam

Seorang Dokter melayani di pedalaman afrika, tiba2 didatangi seaorang warga sambil marah2.
Warga : Dokter, istri saya baru saja melahirkan seorang bayi berkulit putih, dan hanya Dokter yang berkulit putih disini, bagaimana Dokter menjelaskannya?
Dokter : (Bingung untuk menjelaskan tentang fenomena albino pada warga tersebut), lalu Dokter membawanya kesebuah padang tempat domba2 makan.
Anakku, liatlah diantara para domba yang berwarna putih itu ada satu yang berwarna hitam, bagaimana kamu menjelaskannya???
Warga : (ketakutan) ja...ja...jadi, Dokter sudah mengetahuinya??? maafkan saya, saya janji deh tidak menyinggung masalah anak lagi, asal Dokter juga tidak memberitahukan siapa2 tentang domba hitam itu....
Dokter :???????

Jangan Pernah Berdebat dengan Wanita

Suatu waktu di pagi hari, sang suami kembali setelah beberapa jam pergi memancing, dan dia memutuskan untuk istirahat tidur terlebih dahulu.

Meskipun tidak biasa dengan situasi kondisi dengan keadaan danau tersebut, sang istri memutuskan untuk pergi dengan menggunakan perahu sang suami, lalu dia

pergi ke tengah danau, berhenti, dan melemparkan jangkar perahu tersebut, kemudian membaca buku yang telah dia bawa sebelumnya.

Beberapa saat kemudian, datanglah petugas penjaga danau, kemudian petugas tersebut merapat ke perahu sang istri tadi, dan berkata "Selamat pagi, Bu, Apa yang sedang ibu lakukan"?
"Membaca buku", di menjawabnya sambil berpikir ("loh, bukannya sangat jelas terlihat?")

"Ibu sedang berada di area terlarang untuk memancing", sang petugas memberi tahunya

"Oh, maaf Pak, tapi saya sedang membaca buku, bukan sedang memancing"

"Betul, akan tetapi Ibu telah membawa perlengkapan yang lengkap untuk memancing, jadi Ibu bisa kapan saja memancing. Saya terpaksa membawa ibu ke kantor dan memberikan surat pelanggaran"
"Surat pelanggaran hanya untuk membaca buku", jawab sang Istri,

"Ibu sedang berada di area terlarang untuk memancing", jawab sang Petugas,

"Maaf Pak, tapi saya sedang membaca buku, bukan sedang memancing",

"Betul, akan tetapi Ibu telah membawa perlengkapan yang lengkap untuk memancing, jadi Ibu bisa kapan saja memancing. Saya terpaksa membawa ibu ke kantor dan

memberikan surat pelanggaran".

"Jika demikian, saya akan menuntut Anda dengan pelecehan sexual", jawab sang Istri.
"Loh, tapi menyentuh ibupun belum saya lakukan", jawab sang petugas.
"Betul, akan tetapi Bapak telah membawa perlengkapan yang lengkap, jadi Bapak bisa melakukannya kapan saja".

"Selamat membaca bukunya Bu ..., kemudia sang petugas tersebut pergi"



 

Pendeta Dan Orang Mabuk

Mungkin Anda tahu tradisi pensucian jaman dahulu, adalah harus direndam di pinggir sungai, meski cara ini sudah tidak lazim digunakan lagi sekarang.

Suatu pagi hari ada acara pensucian... pendetanya merendam orang yg mau disucikan sampai pinggang. Jemaat yang mau disucikan antri di pinggir sungai tersebut.
Tiba-tiba lewat seorang yang mabuk... sambil sempoyongan dia melihat banyak orang antri di pinggir sungai. Dia terus ikut antri...
Sampai tiba giliran dia, dia masuk ke sungai sebatas pinggang, berikut ini percakapan yang terjadi.

Pendeta memegang kepalanya dan menenggelamkan si orang mabuk tersebut lalu mengangkat dan bertanya,
 "Apakah Anda sudah menemukan TUHAN anakku?"

Orang mabuk menjawab,
"Belum."

Pendeta bingung... terus menenggelamkan si orang mabuk sekali lagi dan terus bertanya lagi,
"Apakah Anda sudah menemukan TUHAN anakku?"

Lagi-lagi si orang mabuk menjawab,
"Belum."

Pendeta tambah bingung plus sedikit kesal. Dia tenggelamkan lagi sekali lagi dan sekali ini agak lama... dua menit penuh... Terus dia nanya lagi,
"APAKAH ANDA SUDAH MENEMUKAN TUHAN ANAKKU?"

Jawab si orang mabuk: (sambil gelagapan)
"Belum... Anda yakin dia tenggelamnya di daerah sini???"

TANDA-TANDA SEBELUM KITA MENINGGAL

 " Tanda 100 hari mau meninggal "


Kematian datangnya adalah rahasia Allah SWT. tak ada satu pun makhluk didunia ini yang bisa menentukan atau meramalkannya. namun, Allah SWT hanya memberikan sedikit tanda-tandanya melalui akal yang berpikir. bahwa tanda itu kentara dan dapat kita rasakan baik secara langsung maupun tidak langsung, seperti lewat tingkah laku hewan atau gejala alam.
berikut artikel yang saya dapatkan dari sumber yang tidak dikenal.

Ini adalah tanda pertama dari ALLAH SWT kepada hambanya dan hanya akan Disadari oleh mereka yang dikehendakiNYA......
Walau bagaimanapun semua orang islam akan mendapat tanda ini, hanya saja mereka menyadari atau tidak.....
Tanda ini akan berlaku lazimnya selepas waktu ashar, seluruh tubuh yaitu dari ujung rambut hingga ke ujung kaki akan mengalami getaran atau seakan-akan menggigil, contohnya seperti daging lembu yang baru saja disembelih dimana jika diperhatikan dengan teliti, kita akan mendapati daging tersebut seakan - akan bergetar......

Tanda ini rasanya nikmat dan bagi mereka yang sadar dan berdetik dihati bahwa mungkin ini adalah tanda mati, maka getaran ini akan berhenti dan hilang setelah kita sadar akan kehadiran tanda ini. Bagi mereka yang tidak diberi kesadaran atau mereka yang hanyut dengan kenikmatan tanpa memikirkan soal kematian, tanda ini akan lenyap begitu saja tanpa sembarang manfaat...

Bagi yang sadar dengan kehadiran tanda ini, maka ini adalah peluang Terbaik untuk memanfaatkan masa yang ada untuk mempersiapkan diri dengan amalan dan urusan yang akan dibawa atau ditinggalkan sesudah mati.

" Tanda 40 hari sebelum hari mati "

Tanda ini juga akan berlaku sesudah waktu ashar, bahagian pusat kita Akan berdenyut-denyut pada ketika ini daun yang tertulis nama kita akan Gugur dari pokok yang letaknya diatas arash ALLAH SWT, maka malaikat maut akan mengambil daun tersebut dan mulai membuat persediaannya ke atas kita, antaranya ialah ia akan mulai mengikuti kita sepanjang masa ...
Akan terjadi malaikat maut ini memperlihatkan wajahnya sekilas lalu dan jika ini terjadi, mereka yang terpilih ini akan merasakan seakan-akan bingung seketika...
Adapun malaikat maut ini wujudnya cuma seorang tetapi kuasanya untuk mencabut nyawa adalah bersamaan dengan jumlah nyawa yang akan dicabutnya.........

" Tanda 7 hari "

Adapun tanda ini akan diberikan hanya kepada mereka yang diuji dengan musibah kesaktian dimana orang sakit yang tidak makan, secara tiba-tiba ia berselera untuk makan...

" Tanda 3 hari "

Pada ketika ini akan terasa denyutan di bahagian tengah dahi kita yaitu diantara dahi kanan dan kiri, jika tanda ini dapat dikesan maka berpuasalah kita selepas itu supaya perut kita tidak mengandungi banyak najis dan ini akan memudahkan urusan orang yang akan memandikan kita nanti....
Ketika ini juga mata hitam kita tidak akan bersinar lagi dan bagi orang yang sakit hidungnya akan perlahan-lahan jatuh dan ini dapat dikesan jika kita melihatnya dari bahagian sisi...
Telinganya akan layu dimana bagian ujungnya akan beransur-ansur masuk Ke dalam...
Telapak kakinya yang terlunjur akan perlahan-lahan jatuh ke depan dan sukarditegakan...

" Tanda 1 hari "

Akan berlaku sesudah ashar dimana kita akan merasakan satu denyutan di sebelah belakang yaitu di kawasan ubun-ubun dimana ini menandakan kita tidak akan sempat untuk menemui waktu ahsar keesokan harinya....

" Tanda akhir "

Akan terjadi keadaan dimana kita akan merasakan sejuk dibahagian pusat dan rasa itu akan turun kepinggang dan seterusnya akan naik ke bahagian Halkum...
Ketika ini hendaklah kita terus mengucap kalimat SYAHADAT dan berdiam diri dan menantikan kedatangan malaikat maut untuk menjemput kita kembali kepada ALLAH SWT yang telah menghidupkan kita dan sekarang akan mematikan pula...wallah'ualam...

SESUNGGUHNYA MENGINGAT MATI ITU ADALAH BIJAK

It's Touching Stor

Kisah Anne
Kisah berikut ini dikutip dari buku "Gifts From The Heart for Women"
karangan Karen Kingsbury. Buku ini dapat Anda peroleh di toko buku
Gramedia,maupun toko buku lainnya.

Inti ceritanya kira-kira sbb :

Ada pasangan suami isteri yang sudah hidup beberapa lama tetapi belum
mempunyai keturunan. Sejak 10 tahun yang lalu, sang istri terlibat aktif
dalam kegiatan untuk menentang ABORSI,karena menurut pandangannya, aborsi
berarti membunuh seorang bayi.


Setelah bertahun-tahun berumah-tangga, akhirnya sang istri hamil, sehingga
pasangan tersebut sangat bahagia. Mereka menyebarkan kabar baik ini kepada
famili, teman2 dan sahabat2, dan lingkungan sekitarnya.
 

Semua orang ikut bersukacita dengan mereka. Dokter menemukan bayi kembar
dalam perutnya, seorang bayi laki2 dan perempuan.Tetapi setelah beberapa
bulan, sesuatu yang buruk terjadi. Tetapi bayi perempuan mengalami
kelainan, dan ia mungkin tidak bisa hidup sampai masa kelahiran tiba. Dan kondisinya
juga dapat mempengaruhi kondisi bayi laki2. Jadi dokter menyarankan untuk
dilakukan aborsi, demi untuk sang ibu dan bayi laki2 nya.

Fakta ini membuat keadaan menjadi terbalik. Baik sang suami maupun sang
istri mengalami depressi. Pasangan ini bersikeras untuk tidak menggugurkan
bayi perempuannya (membunuh bayi tsb), tetapi juga kuatir terhadap
kesehatan bayi laki2nya. 


"Saya bisa merasakan keberadaannya, dia sedang tidur
nyenyak", kata sang ibu di sela tangisannya. 


Lingkungan sekitarnya memberikan dukungan moral kepada pasangan tersebut, dengan mengatakan bahwa ini adalah kehendak Tuhan.

Ketika sang istri semakin mendekatkan diri dengan Tuhan, tiba-tiba dia
tersadar bahwa Tuhan pasti memiliki rencanaNya dibalik semua ini. Hal ini
membuatnya lebih tabah. Pasangan ini berusaha keras untuk menerima fakta
ini.
Mereka mencari informasi di internet, pergi ke perpustakaan, bertemu dengan

banyak dokter, untuk mempelajari lebih banyak tentang masalah bayi mereka.
Satu hal yang mereka temukan adalah bahwa mereka tidak sendirian.
Banyak pasangan lainnya yang juga mengalami situasi yang sama, dimana bayi
mereka tidak dapat hidup lama. Mereka juga menemukan bahwa beberapa bayi
akan mampu bertahan hidup, bila mereka mampu memperoleh donor organ dari
bayi lainnya. Sebuah peluang yang sangat langka.

Siapa yang mau mendonorkan organ bayinya ke orang lain ?
Jauh sebelum bayi mereka lahir, pasangan ini menamakan bayinya,
Jeffrey dan Anne.
 

Mereka terus bersujud kepada Tuhan. Pada mulanya,mereka memohon keajaiban
supaya bayinya sembuh. Kemudian mereka tahu, bahwa mereka seharusnya
memohon agar diberikan kekuatan untuk menghadapi apapun yang terjadi,
karena mereka yakin Tuhan punya rencanaNya sendiri.


Keajaiban terjadi, dokter mengatakan bahwa Anne cukup sehat untuk dilahirkan, tetapi ia tidak akan bertahan hidup lebih dari 2 jam. Sang istri kemudian berdiskusi dengan suaminya, bahwa jika sesuatu yang buruk terjadi pada Anne, mereka akan mendonorkan organnya. 
Ada dua bayi yang sedang berjuang hidup dan sekarat, yang sedang menunggu donor organ bayi.
 

Sekali lagi, pasangan ini berlinangan air mata. Mereka menangis dalam
posisi sebagai orang tua, dimana mereka bahkan tidak mampu menyelamatkan
Anne.Pasangan ini bertekad untuk tabah menghadapi kenyataan yg akan
terjadi.


Hari kelahiran tiba. Sang istri berhasil melahirkan kedua bayinya dengan
selamat. Pada momen yang sangat berharga tersebut, sang suami menggendong
Anne dengan sangat hati-hati, Anne menatap ayahnya, dan tersenyum dengan
manis. Senyuman Anne yang imut tak akan pernah terlupakan dalam hidupnya.
Tidak ada kata2 di dunia ini yang mampu menggambarkan perasaan pasangan
tersebut pada saat itu. Mereka sangat bangga bahwa mereka sudah melakukan
pilihan yang tepat (dengan tidak mengaborsi Anne),mereka sangat bahagia
melihat Anne yang begitu mungil tersenyum pada mereka, mereka sangat sedih
karena kebahagiaan ini akan berakhir dalam beberapa jam saja.

Sungguh tidak ada kata2 yang dapat mewakili perasaan pasangan tersebut.
Mungkin hanya dengan air mata yang terus jatuh mengalir, air mata yang
berasal dari jiwa mereka yang terluka..

Baik sang kakek, nenek, maupun kerabat famili memiliki kesempatan untuk
melihat Anne. Keajaiban terjadi lagi, Anne tetap bertahan hidup setelah
lewat 2 jam.
Memberikan kesempatan yang lebih banyak bagi keluarga tersebut untuk saling
berbagi kebahagiaan. Tetapi Anne tidak mampu bertahan setelah enam jam.....

Para dokter bekerja cepat untuk melakukan prosedur pendonoran organ.
Setelah beberapa minggu, dokter menghubungi pasangan tsb bahwa donor tsb
berhasil. Dua bayi berhasil diselamatkan dari kematian. Pasangan tersebut
sekarang sadar akan kehendak Tuhan..

Walaupun Anne hanya hidup selama 6 jam,tetapi dia berhasil menyelamatkan
dua nyawa. Bagi pasangan tersebut, Anne adalah pahlawan mereka, dan
sang Anne yang mungil akan hidup dalam hati mereka selamanya...


============ =
 

Ada 3 point penting yang dapat kita renungkan dari kisah ini :

1. SESUNGGUHYA, tidaklah penting berapa lama kita hidup, satu hari ataupun
bahkan seratus tahun. Hal yang benar2 penting adalah apa yang kita telah
kita lakukan selama hidup kita, yang bermanfaat bagi orang lain.

2. SESUNGGUHNYA, tidaklah penting berapa lama perusahaan kita telah
berdiri, satu tahun ataupun bahkan dua ratus tahun. Hal yang benar2 penting adalah
apa yang dilakukan perusahaan kita selama ini, yang bermanfaat bagi orang
lain..

3. Ibu Anne mengatakan "Hal terpenting bagi orang tua bukanlah mengenai
bagaimana karier anaknya di masa mendatang, dimana mereka tinggal, maupun
berapa banyak uang yang mampu mereka hasilkan. Tetapi hal terpenting bagi
kita sebagai orang tua adalah untuk memastikan bahwa anak2 kita melakukan hal2 terpuji selama hidupnya, sehingga ketika kematian
 menjemput mereka, mereka akan menuju surga".





   

SMS MALAM PERTAMA

Alkisah ada 3 orang saudara, sebut saja mereka Vira, Voni, dan Veni yang dinikahkan secara masal oleh orangtuanya. Setelah itu mereka pergi berbulan madu bersamaan. Kalau Vira pergi ke Pulau Batam, Voni pergi Ke Kepulauan Seribu dan Veni si bungsu pergi ke Bali.

Namanya orang Tua sayang sama anak, selama mereka berbulan madu kedua Orang Tua mereka minta dikirim kabar tentang segala yang terjadi selama mereka berbulan madu.
tapi agar berita yang dikirim singkat dan tidak terlalu Vulgar, mereka menggunakan Kode/Sandi tentang moto-moto Iklan. Supaya praktis dan murah, berita dikirim lewat SMS.

3 hari setelah kepergian anak mereka berbulan madu, diterimalah sebuah SMS... yang rupanya dari VIRA di Pulau Batam. Isi beritanya cukup sederhana,
"STANDARD CHARTERED". Setelah membaca berita tersebut mereka mencari Iklan Standard Chartered di koran dan terbacalah tulisan besar berbunyi,
"BESAR, KUAT dan BERSAHABAT!" .

Tersenyumlah kedua orang tua mereka membaca berita dari Vira.

Hari ke 4 datang SMS kedua, yang rupanya berasal dari Voni di Kepulauan Seribu. Isi beritanya juga cukup singkat yaitu, "NESCAFE". Setelah membaca sms tersebut, dengan tergesa-gesa kedua orang tua mereka mencari koran dan membaca Iklan NESCAFE yang berbunyi, "NIKMATNYA SAMPAI TETES TERAKHIR".

Maka kedua orang tua mereka pun tersenyum bahagia sambil sedikit haha.. hihi..

Hari ke 5 ditunggu tidak ada berita/SMS yang datang. Hari ke 6 begitu pula tidak ada
sebuah SMS pun. Hari ke 7 begitu pula tidak ada kabar dari anak bungsu mereka si Veni yang berbulan Madu...

Memasuki hari ke 8... akhirnya kedua orangtua mereka menerima SMS juga dari Veni yang berbulan madu di Bali dan isi beritanya cukup singkat, " CATHAY PASIFIC".
Segera kedua orang tua mereka mencari Iklan penerbangan Cathay Pasific yang ada dikoran, dan dijumpailah iklan penerbangan dengan tulisan besar:

"7 KALI SEMINGGU, 3 KALI SEHARI, 5 JAM NON-STOP".

Cerita Sahabat

Dear All,

Ketika saya nge cek email yahoo saya, karena memang acount saya yang satu ini selalu di anak tirikan. hanya buka tutup begitu saja, ga pernah saya baca isinya. Ternyata di dalamnya ada pesan yg di kirim cukup lama (06 april 2009) dari catatan seorang teman baik saya. isinya sederhana, namun ternyata muatannya berat jg dan sangat bagus menurut saya.
dan seperti ini lah isinya, asli tanpa saya edit lagi. mudah2an bermanfaat...

Malam Jum'at di Masjid Rungkut Jaya.

Suatu kali.
Beberapa ayat telah dikupas dari berbagai tafsir:
Jalalain, Al-Mishbah, Al-Azhar, Adz-Dzikra, Fii Dzilalil Qur'an, dan beberapa tafsir berbahasa Jawa dan Inggris.

"Saya pernah berdoa yang tak biasa, Pak," kata Bu Kus membuka sesi pertanyaan.

"Apa itu, Bu Kus?" tanya Pak Suherman Rosyidi, Sang Ustadz.

"Suatu kali saya berdoa: Ya Allah, jadikan saya isteri yang selalu terlihat cantik di mata suami."

"Doa yang bagus, dong," sergah Pak Ustadz,
"lalu apa yang terjadi?"

"Ya, memang bagus, Pak Herman. Tetapi, esok harinya wajah saya mulai ditumbuhi jerawat yang saya tidak tahu darimana datangnya. Banyak.
Beberapa hari kemudian malah memenuhi seluruh wajah. Saya jadi kebingungan. Akhirnya mau tidak mau saya harus menjalani perawatan kecantikan wajah ke sebuah salon kecantikan, suatu hal yang tidak pernah saya lakukan. Saya harus datang ke tempat itu untuk membersihkan jerawat di muka saya. Berkali-kali. Berhari-hari. Hasilnya
tentu saja mengejutkan saya. Wajah saya menjadi lebih bersih dari semula. Lebih cantik."

"Berarti doa ibu dikabulkan sama Allah. Ya nggak?"

"Ya, sih Pak. Tetapi itu belum seberapa, Pak."

"Maksudnya gimana?"

"Saya juga pernah berdoa yang tak biasa, Pak. Doa yang lain."

"Apa itu?"

"Saya berdoa agar Allah menjadikan saya isteri yang setia pada suami."

"Doa yang bagus juga. Lalu apa yang terjadi, Bu?"

"Esok harinya, suami saya jatuh sakit. Tak bisa bangun. Ia harus dirawat
di rumah sakit. Berhari-hari. Saya mau tak mau harus menungguinya selama terbaring itu. Saya bahkan sampai merasa itu semua seperti ujian bagi saya. Ujian terhadap kesetiaan saya, apakah saya tetap setia pada suami apa tidak. Saya seketika teringat akan doa yang pernah saya panjatkan sebelumnya."

"Berarti doa ibu dikabulkan sama Allah. Ya nggak?"

"Ya, sih, Pak."

"Lalu sekarang, pertanyaannya Ibu apa?"

"Bukan pertanyaan, Pak."

"Lalu apa?"

"Sekarang ini, saya justru merasa takut untuk berdoa. Gimana ini?"

***

"Apakah Tuhan memberikan apa yang engkau harap dengan mengantarkannya d alam bungkusan yang indah?"

Neno Warisman pernah bertanya demikian pada sebuah acara di televisi, mengutip pernyataan seorang pakar yang aku lupa namanya.

"Tidak!" lanjut Neno. "Tuhan tidak mengantarkan apa yang engkau minta d alam sebuah bungkusan yang menarik lagi indah. Bahkan Ia mengantarkannya d alam bungkusan yang jelek, ruwet, carut-marut, dan kelihatannya sukar untuk dibuka.

Pertanyaannya adalah: mengapa?"

"Itu tidak lain karena Ia ingin melihat bagaimana engkau membuka bungkusan itu dengan penuh kesabaran, telaten, bersusah-payah lapis demi lapis, sedikit demi sedikit, terus, terus, dan terus. Tak pernah berhenti apalagi berpaling. Hingga pada akhirnya bungkus terakhir terbuka dan engkau mendapatkan sesuatu yang engkau harapkan ada di dalam nya."

Bukankah Allah pasti akan mengabulkan apa yang hamba-Nya pinta? Kuncinya kalau begitu adalah: jangan pernah berhenti memuja. Jangan pernah berhenti berharap.

Allah tidak tidur.
Allah Maha Mengetahui.
Allah Maha Mendengar.
Dia Maha Rahman dan Rahim.

Sungguh tak ada yang sepatutnya kita lakukan kecuali selalu berprasangka baik pada setiap pemberian-Nya. Entah nikmat, entah musibah. Karena musibah pun mungkin hanyalah bungkus belaka; yang selayaknya kita yakini bahwa itu semua hanya karena Ia ingin melihat kita membukanya dengan sepenuh cinta.

"GOD hears more than u say, GOD answers more than u ask
GOD gives more than u desire ; realized it"

Uang 10 ribu mengajarkan anda cara untuk bersyukur


Oleh : Bobby Herwibowo

Selamat Siang..!!! Semoga hari ini lebih baik dari
hari kemarin

Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia
tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. QS. Al Baqarah : 243

Ada seorang sahabat menuturkan kisahnya. Dia bernama Budiman.
Sore itu ia menemani istri dan seorang putrinya
berbelanja kebutuhan rumah tangga bulanan di sebuah toko swalayan.
Usai mereka membayar semua barang belanjaan.
Tangan-tangan mereka sarat dengan tas plastik belanjaan.

Baru saja mereka keluar dari toko swalayan,
istri Budiman dihampiri seorang wanita pengemis
yang saat itu bersama seorang putri kecilnya.
Wanita pengemis itu berkata kepada istri Budiman,
"Beri kami sedekah, Bu!"
Istri Budiman kemudian membuka dompetnya lalu
ia menyodorkan selembar uang kertas berjumlah 1000 rupiah.

Wanita pengemis itu lalu menerimanya. Tatkala ia tahu jumlahnya dan
ternyata itu tidak mencukup kebutuhannya, ia kemudian menguncupkan
jari-jarinya dan ia arahkan kearah mulutnya, kemudian ia memegang kepala anaknya
dan sekali lagi ia mengarahkan jari-jari yang
terkuncup itu ke arah mulutnya. Seolah ia berkata dengan bahasa isyarat,
"Aku dan anakku ini sudah berhari-hari tidak makan, tolong beri kami
tambahan sedekah untuk bisa membeli makanan."

Mendapati isyarat pengemis wanita itu, istri Budiman pun membalas
isyarat dengan gerak tangannya seolah berkata,

"Tidak... tidak, aku tidak akan menambahkan sedekah untukmu!"
Ironisnya meski ia tidak menambahkan sedekahnya malah istri dan
putrinya Budiman menuju ke sebuah gerobak gorengan untuk membeli cemilan.
Pada kesempatan yang sama Budiman berjalan ke arah ATM center
guna mengecek saldo rekeningnya. Saat itu memang adalah tanggal dimana ia
menerima gajian dari perusahaannya,
karenanya Budiman ingin mengecek saldo rekeningnya.

Ia sudah berada di depan ATM. Ia masukkan kartu ke dalam mesin tersebut.
Ia tekan langsung tombol INFORMASI SALDO. Sesaat kemudian muncullah
beberapa digit angka yang membuat Budiman menyunggingkan
senyum kecil dari mulutnya. Ya, uang gajiannya sudah masuk ke dalam rekening.

Budiman menarik sejumlah uang dalam bilangan jutaan rupiah dari ATM.
Pecahan ratusan ribu berwarna merah kini sudah menyesaki dompetnya.
Lalu ada satu lembar uang berwarna merah juga, namun kali ini bernilai 10 ribu
yang ia tarik dari dompet.
Kemudian uang itu ia lipat
menjadi kecil dan ia berniat untuk berbagi dengan wanita pengemis yang tadi
meminta tambahan sedekah.

Budiman memberikan uang itu. Lalu saat sang wanita melihat
nilai uang yang ia terima betapa girangnya dia. Ia berucap syukur kepada
Allah dan berterima kasih kepada Budiman dengan kalimat-kalimat penuh kesungguhan:

"Alhamdulillah. .. Alhamdulillah. .. Alhamdulillah. ..Terima kasih tuan!
Semoga Allah memberikan rezeki berlipat untuk tuan dan keluarga.
Semoga Allah memberi kebahagiaan lahir dan batin untuk tuan dan keluarga.
Diberikan karunia keluarga sakinah, mawaddah warahmah.
Rumah tangga harmonis dan anak-anak yang shaleh dan shalehah.
Semoga tuan dan keluarga juga diberi kedudukan yang terhormat kelak nanti
di surga...!"

Budiman tidak menyangka ia akan mendengar respon yang begitu mengharukan.
Budiman mengira bahwa pengemis tadi hanya akan berucap terima kasih saja.
Namun, apa yang diucapkan oleh wanita pengemis tadi sungguh membuat
Budiman terpukau dan membisu. Apalagi tatkala sekali lagi ia dengar wanita
itu berkata kepada putri kecilnya,

"Dik, Alhamdulillah akhirnya kita bisa makan juga....!"

Deggg...!!! Hati Budiman tergedor dengan begitu kencang. Rupanya wanita tadi
sungguh
berharap tambahan sedekah agar ia dan putrinya bisa makan.
Sejurus kemudian mata Budiman membuntuti kepergian mereka berdua yang berlari
menyeberang jalan, lalu masuk ke sebuah warung tegal untuk makan di sana.

Budiman masih terdiam dan terpana di tempat itu. Hingga istri dan putrinya
kembali lagi dan keduanya menyapa Budiman. Mata Budiman kini mulai
berkaca-kaca dan istrinya pun mengetahui itu.

"Ada apa Pak?" Istrinya bertanya. Dengan suara yang agak berat dan terbata

Budiman menjelaskan:

"Aku baru saja menambahkan sedekah kepada wanita tadi sebanyak 10 ribu rupiah!"

Awalnya istri Budiman hampir tidak setuju
tatkala Budiman menyatakan bahwa ia memberi tambahan sedekah kepada wanita pengemis,
namun Budiman melanjutkan kalimatnya:

"Bu..., aku memberi sedekah kepadanya sebanyak itu. Saat menerimanya,
ia berucap hamdalah berkali-kali seraya bersyukur kepada Allah.
Tidak itu saja, ia mendoakan aku, mendoakan dirimu, anak-anak dan keluarga kita.
Panjaaaang sekali ia berdoa! Dia hanya menerima karunia dari Allah Swt
sebesar 10 ribu saja sudah sedemikian hebatnya bersyukur.
Padahal aku sebelumnya melihat di ATM saat aku mengecek saldo dan ternyata di sana ada jumlah yang mungkin ratusan bahkan ribuan kali lipat dari 10 ribu rupiah.
Saat melihat saldo itu, aku hanya mengangguk-angguk dan tersenyum.
Aku terlupa bersyukur, dan aku lupa berucap hamdalah. Bu...,
aku malu kepada Allah! Dia terima hanya 10 ribu begitu bersyukurnya dia
kepada Allah dan berterimakasih kepadaku. Kalau memang demikian,
siapakah yang pantas masuk ke dalam surga Allah, apakah dia yang menerima 10 ribu
dengan syukur yang luar biasa, ataukah aku yang menerima jumlah lebih banyak
dari itu namun sedikitpun aku tak berucap hamdalah."

Budiman mengakhiri kalimatnya dengan suara yang terbata-bata dan beberapa
bulir air mata yang menetes. Istrinya pun menjadi lemas setelah menyadari betapa selama ini kurang bersyukur sebagai hamba.

Ya Allah, ampunilah kami para hamba-Mu yang suka lalai atas segala nikmat-Mu!

Temukan Cinta Anda


Bila anda tidak mencintai pekerjaan anda
maka cintailah orang2 yang bekerja disana

Rasakan kegembiraan dari pertemanan itu
dan, pekerjaan pun jadi menggembirakan

Bila anda tidak bisa mencintai rekan2 kerja anda
Maka cintailah suasana dan gedung kantor anda
ini mendorong anda untuk bergairah berangkat kerja
dan melakukan tugas2 dengan lebih baik lagi

Bila toh anda juga tidak bisa melakukannya
cintai pengalaman setiap pulang pergi dari dan ke tempat
kerja anda
perjalanan yang menyenangkan menjadikan tujuan tampak
menyanangkan juga

Namun bia anda tidak menemukan kesenangan di sana
maka cintai apapun yang bisa anda cintai dari tempat kerja
anda
tanaman penghias meja, cicak di dinding, atau gumpalan awan
dari balik jendela

apa saja. bila tidak menemukan yang bisa anda cintai dari
pekerjaan anda
maka, mengapa anda ada di situ ?
tidak ada alasan bagi anda untuk tetap bertahan.

Cepat pergi dan carilah apa yang anda cintai
lalu bekerjalah disana

Hidup hanya sekali
Tidak ada yang lebih indah
selain melakukan dengan rasa cinta dan tulus.

Sejarah Singkat Karawang

Sekitar Abad XV Masehi, Agama Islam masuk ke Karawang yang dibawa oleh ulama besar Syeikh Hasanudin bin Yusup Idofi dari Champa yang terkenal dengan sebutan Syeikh Quro. Pada masa itu daerah Karawang sebagian besar masih merupakan hutan belantara dan berawa-rawa.

Keberadaan daerah Karawang yang telah dikenal sejak Kerajaan Padjadjaran yang berpusat di Daerah Bogor, karena Karawang pada masa itu merupakan jalur lalu lintas yang sangat penting untuk menghubungkan Kerajaan Pakuan Padjadjaran dengan Galuh Pakuan yang berpusat di Daerah Ciamis.

Luas Wilayah Kabupaten Karawang pada saat itu, tidak sama dengan luas Wilayah Kabupaten Karawang pada masa sekarang. Pada waktu itu luas Wilayah Kabupaten Karawang meliputi Bekasi, Purwakarta, Subang dan Karawang sendiri .

Setelah Kerajaan Padjadjaran runtuh pada tahun 1579 Masehi, pada tahun 1580 Masehi berdiri Kerajaan Sumedanglarang sebagai penerus Kerajaan Padjadjaran dengan Rajanya Prabu Geusan Ulun. Kerajaan Islam Sumedanglarang, pusat pemerintahannya di Dayeuhluhur dengan membawahi Sumedang, Galuh, Limbangan,Sukakerta dan Karawang.

Pada tahun 1608 Prabu Geusan Ulun wafat dan digantikan oleh putranya Ranggagempol Kusumahdinata. Pada masa itu di Jawa Tengah telah berdiri Kerajaan Mataram dengan Rajanya Sultan Agung (1613 - 1645). Salah satu cita-cita Sultan Agung pada masa pemerintahannya adalah dapat menguasai Pulau Jawa dan mengusir Kompeni (Belanda) dari Batavia.

Ranggagempol Kusumahdinata sebagai Raja Sumendanglarang masih mempunyai hubungan keluarga dengan Sultan Agung dan mengakui kekuasaan Mataram. Maka pada Tahun 1620, Ranggagempol Kusumahdinata menghadap ke Mataram dan menyerahkan kerajaan Sumedanglarang di bawah naungan Kerajaan Mataram.

Ranggagempol Kusumahdinata oleh Sultan Agung diangkat menjadi Bupati (Wadana) untuk tanah Sunda dengan batas-batas wilayah disebelah Timur Kali Cipamali, disebelah Barat Kali Cisadane, disebelah Utara Laut Jawa, dan disebelah Selatan Laut Kidul.

Pada Tahun 1624 Ranggagempol Kusumahdinata wafat, dan sebagai penggantinya Sultan Agung mengangkat Ranggagede, Putra Prabu Geusan Ulun.

Ranggagempol II, putra Ranggagempol Kusumahdinata yang semestinya menerima tahta kerajaan, merasa disisihkan dan sakit hati. Kemudian beliau berangkat ke Banten untuk meminta bantuan Sultan Banten agar dapat menaklukkan Kerajaan Sumedanglarang dengan imbalan apabila berhasil, maka seluruh wilayah kekuasaan Sumedanglarang akan diserahkan kepada Banten.

Sejak itu banyak tentara Banten yang dikirim ke Karawang terutama di sepanjang Sungai Citarum, di bawah Pimpinan Sultan Banten bukan saja untuk memenuhi permintaan Ranggagempol II, Tetapi merupakan awal usaha Banten untuk menguasai Karawang sebagai persiapan merebut kembali pelabuhan Banten yang telah dikuasai oleh Kompeni (Belanda), yaitu pelabuhan Sunda Kelapa.

Masuknya tentara Banten ke Karawang beritanya telah sampai ke Mataram. Pada Tahun 1624, Sultan Agung mengutus Surengrono (Aria Wirasaba) dari Mojo Agung, Jawa Timur untuk berangkat ke Karawang dengan membawa 1000 Prajurit dengan keluarganya, dari Mataram melalui Banyumas dengan tujuan untuk membebaskan Karawang dari pengaruh Banten, mempersiapkan logistik dengan membangun gudang-gudang beras dan meneliti rute penyerangan Mataram ke Batavia.

Langkah awal yang dilakukan Aria Surengrono adalah dengan mendirikan 3 (tiga) Desa yaitu Waringinpitu (Telukjambe), Desa Parakansapi (di Kecamatan Pangkalan yang sekarang telah terendam Waduk Jatiluhur) dan Desa Adiarsa (Sekarang ternlasuk di Kecamatan Karawang Barat), dengan pusat kekuatan di ditempatkan di Desa Waringinpitu.

Karena jauh dan sulitnya hubungan antara Karawang dengan Mataram, Aria Wirasaba belum sempat melaporkan tugas yang sedang dilaksanakan kepada Sultan Agung. Keadaan ini menjadikan Sultan Agung mempunyai angqapan bahwa tuqas yang diberikan kepada Aria Wirasaba gagal dilaksanakan.

Demi menjaga keselamatan Wilayah Kerajaan Mataram sebelah barat, pada tahun 1628 dan 1629, bala tentara Kerajaan Mataram diperintahkan Sultan Agung untuk melakukan penyerangan terhadap VOC (Belanda) di Batavia. Namun serangan ini gagal disebabkan keadaan medan yang sangat berat. Sultan Agung kemudian menetapkan Daerah Karawang sebagai pusat logistik yang harus mempunyai pemerintahan sendiri dan langsung berada dibawah pengawasan Mataram serta harus dipimpin oleh seorang pemimpin yang cakap dan ahli perang sehingga mampu menggerakkan masyarakat untuk membangun pesawahan guna mendukung pengadaan logistik dalam rencana penyerangan kembali terhadap VOC (belanda) di Batavia.

Pada tahun 1632, Sultan Agung mengutus kembali Wiraperbangsa Sari Galuh dengan membawa 1.000 prajurit dengan keluarganya menuju Karawang. Tujuan pasukan yang dipimpin oleh Wiraperbangsa adalah membebaskan Karawang dari pengaruh Banten, mempersiapkan logistik sebagai bahan persiapan melakukan penyerangan terhadap VOC (Belanda) di Batavia, sebagaimana halnya tugas yang diberikan kepada Aria Wirasaba yang dianggap gagal.

Tugas yang diberikan kepada Wiraperbangsa dapat dilaksanakan dengan baik dan hasilnya langsung dilaporkan kepada Sultan Agung. Atas keberhasilannya Wiraperbangsa oleh Sultan Agung dianugrahi jabatan Wedana (Setingkat Bupati) di Karawang dan diberi gelar Adipati Kertabumi III serta diberi hadiah sebilah keris yang bernama "Karosinjang".

Setelah penganugrahan gelar tersebut yang dilakukan di Mataram, Wiraperbangsa bermaksud akan segera kembali ke Karawang, namun sebelumnya beliau singgah dahulu ke Galuh untuk menjenguk keluarganya.Atas takdir IIlahi Beliau kemudian wafat saat berada di Galuh.

Setelah Wiraperbangsa Wafat, Jabatan Bupati di Karawang dilanjutkan oleh putranya yang bernama Raden Singaperbangsa dengan gelar Adipati Kertabumi IV yang memerintah pada tahun 1633-1677.

Pada abad XVII kerajaan terbesar di Pulau Jawa adalah Mataram, dengan raja yang terkenal yaitu Sultan Agung Hanyokrokusumo. la tidak menginginkan wilayah Nusantara diduduki atau dijajah oleh bangsa lain dan ingin mempersatukan Nusantara.

Dalam upaya mengusir VOC yang telah menanamkan kekuasaan di Batavia, Sultan Agung mempersiapkan diri dengan terlebih dahulu menguasai daerah Karawang, untuk dijadikan sebagai basis atau pangkal perjuangan dalam menyerang VOC.

Ranggagede diperintahnya untuk mempersiapkan bala tentara/prajurit dan logistik dengan membuka lahan-Iahan pertanian, yang kemudian berkembang menjadi lumbung padi.

Tanggal 14 September 1633 Masehi, bertepatan dengan tanggal 10 Maulud 1043 Hijriah, Sultan Agung melantik Singaperbangsa sebagai Bupati Karawang yang pertama, sehingga secara tradisi setiap tanggal 10 Maulud diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten Karawang.

Berawal dari sejarah tersebut dan perjuangan persiapan proklamasi kemerdekaan RI, Karawang lebih dikenal dengan julukan sebagai kota pangkal perjuangan dan daerah lumbung padi Jawa Barat.

Pemutakhiran Terakhir ( Saturday, 14 June 2008 )

Ketika Kita Menghadapi Kesulitan

Seorang guru sufi berbicara dengan anak muridnya yang sedang dirundum kegelisahan. Anak muridnya itu selalu nampak kusut dan tidak ceria. Lantas guru sufi itu bertanya kepada muridnya ;
“Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah2 dan menggembirakan di dunia ini? Ke mana perginya wajahmu yang ceria? Tidahkah kamu seorang yang bersyukur?” sang guru bertanya.
“Syeikh, kebelakangan ini hidup saya penuh rintangan dan masalah. Amat sukar bagi saya untuk tersenyum seperti dulu. Masalah yang menimpa saya bertindan-tindan, lepas satu, satu masalah lagi timbul.” jawab sang murid.
Sang guru tersenyum. “Nak, ambilkan segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kepadaku. Biar aku coba tolong kamu menyelesaikan kekusutan hatimu.”
Si murid pun pergi mendapatkan segelas air dan 2 genggam garam seperti yang dikehendaki gurunya, lalu kembali semula kepada gurunya dengan membawa segelas air  dan garam sebagaimana yang diminta.
“Sekarang, ambil lah segenggam garam itu, dan masukkan ke segelas air itu,” kata Sang guru, “setelah kamu masukkan garam itu, aduk dan kamu minum airnya.”
Si murid tadi lantas mengikut segala apa yang dikatakan oleh gurunya dengan harapan masalahnya akan selesai. Wajahnya menjadi berkerut sekali menahan keasinan air garam yang diminumnya.
“Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru.
“Sangat asin, dan perutku jadi mual,” jawab si murid dengan wajah yang masih berkerut.
Sang Guru tersenyum lagi melihat wajah muridnya yang mengerut keasinan.
“Sekarang kamu ikut aku.” Sang Guru membawa muridnya ke sebuah denai sungai yang berdekatan dengan tempat mereka berbual. “Ambil lah segenggam lagi garam yang kamu ambil tadi, kemudian coba kamu lemparkan ke dalam denai sungai ini.
Si murid mengikut arahan gurunya dengan patuh, lantas menaburkan baki segenggam garam yang ada masuk ke dalam denai sungai. Rasa asin yang terlekat di mulutnya lantaran minum air garam tadi masih belum hilang. Dia rasa ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya itu, tapi tak dapat dilakukannya lantaran rasanya rasa hormatnya pada gurunya. adalah amat tidak sopan meludah di hadapan guru dan mursyid, begitulah fikirannya.

“Baik sekarang, coba kamu minum air denai sungai ini.” kata Sang Guru sambil mengarahkan muridnya agar mencari batu yang rata di tepi denai untuk menceduk air dari dalamnya.
Si murid menangkupkan kedua belah tapak tangannya, lantas menceduk air denai sungai itu menggunakan kedua belah tangannya itu. Murid itu kemudian meneguk air yang diceduknya dari denai tersebut. Tatkala air denai yang sejuk dan segar mengalir masuk ke kerongkongnya, Sang Guru pun bertanya kepadanya, “Bagaimanakah rasanya?”
“Amat sejuk dan segar sekali, yaa syeikh” kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan belakang tangannya.
Memanglah sejuk dan segar, denai sungai ini berasal dari aliran sumber air dari atas kawasan gunung. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Maka sudah pasti, air denai itu begitu segar dan dapat menghilangkan rasa masin yang melekat di mulut murid itu.
“Adakah kamu dapat rasa asin garam yang kamu taburkan tadi?”
“Eh ha’ah tidak, tidak rasa asin langsung,” kata si murid sambil mengambil air dan coba merasainya sekali lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikan gelagat anak muridnya itu.
“Nak,” kata Sang Guru setelah beberapa ketika. “Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang dan tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kamu alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadarkan oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak kurang dan tidak lebih. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini sudah ditetapkan ujian dan dugaan yang sedemikian. Tidak ada seorang pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari ujian penderitaan dan masalah.”
Si murid terdiam, termanggu mendengar kata-kata gurunya.
“Tapi wahai anakku, rasa ‘asin’ dari penderitaan yang dialami itu adalah sangat tergantung dari besar mana hati atau qolbu yang menampungnya. Jadi anakku, untuk  tidak merasa derita dan bermurung durja, janganlah kecilkan hati dan jiwamu jadi seperti segelas air itu. Sebaliknya besarkan hati dan jiwamu menjadi seperti denai sungai yang mengalir.”

Tidak guna kita terlalu bimbang dan khuatir tentang masa depan yang belum kita ketahui. Sebaliknya adalah lebih baik kita menumpukan perhatian kita kepada apa yang berlaku ketika ini. Hadapilah segala dugaan dan rintangan dengan tabah dan tenang. Dunia ini dunia ujian. Allah hanya mau melihat sejauh mana hambaNya dapat taat segala perintahNya dalam apa jua keadaan dan situasi.
IKHLAS & SABAR lah dalam menghadapi sebarang rintangan! Selamat berjuang!

Mensyukuri Hidup

Mau Bahagia ? Syukuri Hidup ini

“ Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir ( Q.S. Al-Ma’arij : 19-21 )

Kekayaan memang bisa membeli kesenangan dunia namun ia tidak bisa membeli kebahagiaan.

Ada sepasang suami istri setiap hari kemana-mana selalu dengan mobil mewah. Mereka adalah pasangan yang begitu sibuk dengan berbagai aktivitas. Maklum sang suami adalah seorang pengusaha sukses dan istri adalah wanita karir. Dan anak merekapun disekolahkan di tempat yang terbaik dengan segala fasilitas yang serba mewah. Tentunya si anak juga disediakan sopir yang mengantarnya kemana ia pergi.
Mereka terkenal di sekitar tempat tinggal mereka dan hampir semua orang mengenalnya termasuk mengenal baik semua kendaraan yang mereka pakai. Mereka memang tidak tinggal dilingkungan khusus orang kaya. Para tetangga masih banyak hidup sederhana. Tidak masalah mereka tetap dapat hidup rukun berdampingan. Dan masing-masing mempunyai kehidupan sendiri.
Seperti biasanya mereka berangkat pagi dan baru pulang menjelang malam dan itu berlangsung entah sudah berapa lama.
”Pak, lihat betapa bahagianya mereka. Jam segini mereka sudah bercengkrama dengan keluarga sedangkan kita masih dibuk dengan segudang pekerjaan” Ucap istri ketika melintasi sebuah keluarga sederhana yang sedang berbincang-bincang diteras rumah.
”Iya...ya...ma. kapan yach kita bisa seperti mereka yang setiap saat bisa menikmati waktu santai dengan keluarga” Dan suaminya pun mengiyakan sambil menarik nafas dalam-dalam. Begitu terasa ada beban yang begitu berat menghimpit dada mereka.
”Kadang-kadang mama rasanya ingin meninggalkan semua ini dan hidup bahagia seperti mereka”

Sedangkan dari teras rumah yang dimaksud juga merasakan hal yang sama
”Pak, kapan yach kita bisa seperti mereka. Kemana-mana selalu naik mobil mewah. Ibu yakin hidup mereka pasti sangat bahagia” Ucap istri Sang peimilik rumah sederhana sambil menunjuk mobil yang baru melintasi depan rumahnya.
”Bapak bisa merasakan hal yang sama, kapan kita menjadi orang kaya, bapak selalu ingin berkerja keras tapi tidak ada yang harus dikerjakan” Pandangannya menerawang jauh kedalam.

Dilain waktu anak orang kaya itu tidak kalah gelisahnya ketika menyaksikan anak-anak sebayanya diantar jemput sama orang tua mereka kesekolah, tidak seperti dirinya yang selalu diantar jemput sama sopir.

”Alangkah bahagianya mereka, kemana-mana selalu dengan orang tua sedangkan orang tuaku tidak pernah melakukannya. Mereka terlalu sibuk dengan bisnis mereka. Aku iri dengan mereka” Anak itu mengeluh dan menitikkan air mata.
”Aku ingin seperti anak yang ada di mobil itu. Kemana-mana ada yang antar kalau hujan tidak kehujanan dan kalau panas tidak kepanasan dan tidak perlu capek berjalan kaki berkilo-kilo meter” Anak lain yang sedang berjalan kaki menyampaikan isi hatinya kepada orang tuanya yang ada di sampingnya.

Sahabat.......,
Cerita diatas menggambarkan bahwa manusia selalu melihat orang lebih baik darinya. Dan kita juga sering mendengar bahwa”Manusia memang tidak pernah ada puasnya” Omongan ini benar bagi orang-orang yang memang dikendalikan oleh hawa nafsu, karena kalau kita mau mengikuti nafsu maka tidak akan pernah habis. Sebelum kaya ingin menjadi kaya setelah kaya ingin menjadi lebih kaya lagi. Dan saat merasa dirinya benar-benar kewalahan mempertahankan segala efek yang ditimbulkan oleh kekayaannya dirinya merasa lelah, merasa tidak ada waktu lagi untuk berkumpul dengan keluarga. Contoh lainnya sebelum menjadi orang terkenal ingin menjadi orang yang terkenal begitu terkenal, dirinya mengeluh lagi, merasakan ruang geraknya menjadi terbatas dan tidak ada privaci lagi.

Saat menjadi pengangguran hidup begitu stress, ketika mendapatkan pekerjaan, mengeluh lagi merasakan tidak ada waktu bersantai. Demikian juga pada seorang bintang sinetron saat belum mendapatkan peran, cari kemana-mana. Begitu mendapatkannya setiap hari harus suting sampai larut malam, ia marah-marah karena tidak ada waktu untuk istirahat.

Pengangguran ingin menjadi karyawan, karyawan ingin menjadi bos sedangkan bos selalu stress merasakan beban yang dipikul terlalu berat dan merasakan dirinya selalu bekerja keras tidak seperti lainnya ada begitu banyak waktu tersisa untuk keluarga.
Hidup Bahagia Tentu Ada Kuncinya !
Salah satunya yaitu kita HARUS BERSYUKUR dan tidak membanding-bandingkan hidup kita dengan hidup orang lain, setiap manusia pasti mempunyai masalah dan beban masing-masing yang tidak diketahui oleh orang lain. Orang hanya bisa melihat sisi luarnya saja dalam hati siapa yang tahu.

Kita melihat orang lain baik, orang lain melihat hidup kita enak. Kita ingin menjadi seperti mereka demikian juga sebaliknya, ketahuilah kita tidak bisa menjadi orang lain. Dan sekali lagi itu adalah perbuatan setan yang bernama nafsu.

Namun manusia bersyukur bukanlah manusia yang pasrah kepada keadaan. Manusia yang bersyukur adalah manusia yang selalu lapang dada menerima hasil dari usahanya yang optimal. Sedangkan manusia yang putus asa adalah manusia yang menerima nasibnya tanpa ada usaha.

Apapun dan berapapun yang didapatkan dari hasil usahanya bagi manusia yang bersyukur selalu berkecukupan. Karena Manusia yang selalu bersyukur tahu berapapun yang di dapatkan dalam dunia ini tidak akan perna cukup. Kalau sudah seperti itu kenapa kita harus memaksakan diri untuk mengejar sesuatu yang memang tidak pernah cukup ?

Sesungguhnya kebutuhan hidup kita tidaklah banyak hanya terkadang nafsulah yang membuat kita tidak pernah merasakan berkecukupan, maka dari itu orang –orang yang hidup bahagia adalah mereka yang bisa menyederhanakan kebutuhannya.
Tak seorangpun yang bisa memenuhi keinginannya dengan sempurna, kalau kita tidak mampu mengendalikan nafsu, maka selamanya kita akan menjadi orang yang selalu kekurangan. Jangan pernah merasa tidak puas dengan apa yang telah kita peroleh.

Sekecil apapun hasil yang kita dapatkan harus kita syukuri. Sifat tidak puas adalah cermin sikap orang yang tamak, yang selamanya akan hidup sengsara sedangkan orang yang selalu bersyukur akan mendapatkan kebahagiaan.

Suatu hari ada orang miskin yang datang menghadap kepada Nabi Musa Alaihissalam pakaiannya lusuh dan badannya kurus tak terawat. Berkatalah orang miskin itu kepada Nabi Musa, 'Ya Nabi, tolong sampaikan kepada Alloh SWT, mohonkan aku, agar aku menjadi orang kaya.
"Saudaraku, perbanyaklah bersyukur kepada Alloh SWT," jawab Nabi Musa sambil tersenyum padanya. Orang miskin itu terkejut mendengar jawaban Nabi Musa, dengan nada marah dia mengatakan, "Bagaimana aku bersyukur, makan aja susah, apa lagi pakaian cuman satu sudah begitu compang camping lagi." Kemudian dia ngeloyor pergi meninggalkan Nabi Musa.
Tak lama kemudian datang orang kaya menghadap Nabi Musa, "Ya Nabi, tolong sampaikan kepada Alloh SWTmohonkan aku, agar aku menjadi orang miskin aja karena harta yang banyak membuat hidupku tidak nyaman."
"Saudaraku, perbanyaklah bersyukur kepada Alloh SWT," jawab Nabi Musa sambil tersenyum padanya. Orang kaya itu terkejut mendengarkan jawaban Nabi Musa, tanpa berkata apapun dia akhirnya pulang ke rumah. Beberapa hari kemudian orang kaya itu bertambah kaya karena sejak itu selalu bersyukur dan orang miskin semakin miskin karena enggan bersyukur atas semua karunia Alloh SWT.
Dan ingatlah tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Q.S.Ibrahim : 7)

Catatan dari : 
http://www.rumah-yatim-indonesia.org

DIALOG IMAJINER TUHAN DENGAN MANUSIA

Man : Selamat pagi Tuhan, sekiranya Tuhan punya waktu sedikit aku ingin bertanya...

GOD : Waktu-Ku adalah KEKEKALAN, tidak ada masalah tentang waktu. Apa pertanyaanmu?

Man : Terima kasih.... Apa yang PALING MENGHERANKAN bagi-Mu tentang kami "MANUSIA"?

GOD : Kalian itu makhluk yang "ANEH"….

#Pertama, suka MENCEMASKAN MASA DEPAN , sampai LUPA dengan HARI INI...Sehingga kalian LUPA BERSYUKUR dan BERUSAHA.

#Kedua, kalian HIDUP di dunia seolah-olah KEKAL TIDAK akan MATI. Kalian LEBIH BANYAK mengumpulkan BEKAL hidup di DUNIA, daripada BEKAL setelah MATI. Padahal hidup di DUNIA hanyalah SEMENTARA, dan hidup SETELAH MATI adalah KEKEKALAN.

#Ketiga, kalian cepat BOSAN sebagai ANAK-ANAK dan TERBURU-BURU ingin DEWASA, namun setelah DEWASA kalian KEKANAK-KANAKAN : suka bertengkar, ngambek, dan ribut karena soal soal sepele.
#Keempat, kalian RELA KEHILANGAN KESEHATAN demi MENGEJAR UANG, tetapi kemudian membayar dengan UANG untuk mengembalikan KESEHATAN.

#Kelima, kalian lebih TABAH manakala Aku UJI dengan KEMELARATAN dan PENYAKIT dibandingkan saat Aku uji dengan banyak rizki dan kesehatan.
Kala kalian MELARAT dan SAKIT, kalian LEBIH DEKAT kepada-Ku dengan ibadah dan doa.
Padahal Aku SENANG bila kalian MENDEKAT kepada-Ku, tapi kalian tidak suka dengan KEMELARATAN dan PENYAKIT tersebut.

Hal-hal itulah yang membuat hidup kalian SUSAH.

Man : Lantas apa nasihat Tuhan agar kami bisa hidup BAHAGIA ?

GOD : Sebenarnya semua nasihat sudah pernah diberikan.
Inilah satu lagi keanehan kalian : SUKA MELUPAKAN nasihat-Ku.
Baiklah Ku ulangi lagi ya beberapa nasehat yg penting:

1. Kalian harus sadar bahwa MENGEJAR RIZKI adalah sebuah KESALAHAN.
Yang seharusnya kalian lakukan ialah MENATA DIRI agar kalian LAYAK dikucuri rizki.
Ingat, rizki berasal dari-Ku.
Jadi JANGAN MENGEJAR RIZKI, tetapi biarlah RIZKI yang MENGEJAR kalian.
2. Ingat : "SIAPA" yang kalian miliki itu LEBIH BERHARGA dari pada "APA" yang kalian punyai.
Memilik "SIAPA" akan mendatangkan "APA", Kehilangan "SIAPA" akan kehilangan "APA" juga...Tetapi bila kamu kehilangan "APA" masih ada "SIAPA" yang akan membantumu.
Jadi, PERBANYAKLAH teman, JAUHI permusuhan...

3. Jangan bodoh dengan CEMBURU dan membandingkan yang dimiliki orang lain, BERSYUKURLAH dengan apa yang telah kalian terima. Karena semuanya akan ditanya DARIMANA kamu dapatkan dan UNTUK APA dibelanjakan.

4. Ingat orang KAYA bukanlah dia yang berhasil mengumpulkan harta yang paling banyak, tetapi adalah dia yang PALING "SEDIKIT" MEMERLUKAN hartanya, sehingga masih sanggup MEMBERI kepada sesamanya.

Catatan dari: Lutfi M. Fauzan, http://www.rumah-yatim-indonesia.org 

Pemberian Terbaik

Bersama keluarganya. Mereka menetap di sebuah kerajaan yang besar, dengan raja yang adil dan bijaksana. Beruntunglah siapa saja yang tinggal disana. Tanahnya subur, keadaannya pun aman dan sentosa. Semuanya hidup berdampingan, tanpa pernah mengenal perang ataupun bencana.

Setiap pagi, sang petani selalu pergi ke sawah. Tak lupa ia membawa bajak dan kerbau peliharaannya. Walaupun sudah tua, namun bajak dan kerbau itu selalu setia menemaninya bekerja. Sisi-sisi kayu dan garu bajak itu tampak mengelupas, begitupun kerbau yang sering tampak letih jika bekerja terlalu lama. "Inilah hartaku yang paling berharga", demikian gumam petani itu dalam hati, sembari melayangkan pandangannya ke arah bajak dan kerbaunya.

Tak seperti biasa, tiba-tiba ada serombongan pasukan yang datang menghampiri petani itu. Tampak pemimpin pasukan yang maju, lalu berkata, "Berikan bajak dan kerbaumu kepada kami. "Ini perintah Raja!". Suara itu terdengar begitu keras, mengagetkan petani itu yang tampak masih
kebingungan.

Petani itu lalu menjawab, "Untuk apa, sang Raja menginginkan bajak dan kerbauku? "Ini adalah hartaku yang paling berharga, bagaimana aku bisa bekerja tanpa itu semua. Petani itu tampak menghiba, memohon agar diberikan kesempatan untuk tetap bekerja. "Tolonglah, kasihani anak dan istriku...berilah kesempatan sampai besok. Aku akan membicarakan dengan keluargaku..."

Namun, pemimpi pasukan berkata lagi, "Kami hanya menjalankan perintah dari Baginda. Terserah, apakah kau mau menjalankannya atau tidak. Namun, ingatlah, kekuasaannya sangat kuat. "Petani semacam kau tak akan mampu melawan perintahnya." Akhirnya, pasukan itu berbalik arah, dan kembali ke arah istana.

Di malam hari, petani pun menceritakan kejadian itu dengan keluarganya. Mereka tampak bingung dengan keadaan ini. Hati bertanya-tanya, "Apakah baginda sudah mulai kehilangan kebijaksanaannya? Kenapa baginda tampak tak melindungi rakyatnya dengan mengambil bajak dan kerbau kita? Gundah, dan resah melingkupi keluarga itu. Namun, akhirnya, mereka hanya bisa pasrah dan memilih untuk menyerahkan kedua benda itu kepada raja.

Keesokan pagi, sang petani tampak pasrah. Bersama dengan bajak dan kerbaunya, ia melangkah menuju arah istana. Petani itu ingin memberikan langsung hartanya yang paling berharga itu kepada Raja. Tibalah ia di halaman Istana, dan langsung di terima Raja. "Baginda, hamba hanya bisa pasrah. Walaupun hamba merasa sayang dengan harta itu, namun hamba ingin membaktikan diri kepada Baginda. Duli Paduka, terimalah pemberian ini...."

Baginda Raja tersenyum. Sambil menepuk kedua tangannya, ia tampak memanggil pengawal. "Pengawal, buka selubung itu!! Tiba-tiba, terkuaklah selubung di dekat taman. Ternyata, disana ada sebuah bajak yang baru dan kerbau yang gemuk. Kayu-kayu bajak itu tampak kokoh, dengan urat-urat kayu yang mengkilap. Begitupun kerbau, hewan itu begitu gemuk, dengan kedua kaki yang tegap.

Sang Petani tampak kebingungan. Baginda mulai berbicara, "Sesungguhnya, aku telah mengenal dirimu sejak lama. Dan aku tahu kau adalah petani yang rajin dan baik. Namun, aku ingin mengujimu dengan hal ini. Ternyata, kau memang benar-benar hamba yang baik. Engkau rela memberikan hartamu yang paling berharga untukku. Maka, terimalah hadiah dariku. Engkau layak menerimanya...."

Petani itu pun bersyukur dan ia pun kembali pulang dengan hadiah yang sangat besar, buah kebaikan dan baktinya pada sang Raja.

***

Teman, bisa jadi, tak banyak orang yang bisa berlaku seperti petani tadi. Hanya sedikit orang yang mau memberikan harta yang terbaik yang dimilikinya kepada yang lain. Namun, petani tersebut adalah satu dari
orang-orang yang sedikit itu. Dan ia, memberikan sedikit pelajaran buat kita.

Sesungguhnya, Allah sering meminta kita memberikan terbaik yang kita punya untuk-Nya. Allah, sering memerintahkan kita untuk mau menyampaikan yang paling berharga, hanya ditujukan pada-Nya. Bukan, bukan karena Allah butuh semua itu, dan juga bukan karena Allah kekurangan. Namun karena sesungguhnya Allah Maha Kaya, dan Allah sedang menguji setiap hamba-Nya.

Allah sedang menguji, apakah hamba-Nya adalah bagian dari orang-orang yang beriman dan mau bersyukur. Allah sedang menguji, apakah ada dari hamba-hamba-Nya yang mau menafkahkan harta di jalan-Nya. Dan Allah, pasti akan memberikan balasan atas upaya itu dengan pemberian yang tak akan
kita bayangkan. Imbalan dan pahala yang akan kita terima, sesungguhya akan mampu membuat kita paham, bahwa Allah memang Maha Pemberi Kemuliaan.

Dan teman, mari kita berikan yang terbaik yang kita punya kepada-Nya. Marilah kita tujukan waktu, kerja dan usaha kita yang terbaik hanya kepada-Nya. Karena sesungguhnya memang, kita tak akan pernah menyadari balasan apa yang akan kita terima atas semua itu.

Allah selalu punya banyak cara-cara rahasia untuk memberikan kemuliaan bagi hamba-Nya. Dan Dia akan selalu memberikan pengganti yang lebih baik untuk semua yang ikhlas kita berikan pada-Nya.

Kisah Seorang Ibu Dengan Ketiga Anaknya


Ada seorang ibu mempunyai tiga orang anak. Ketika hujan turun dengan derasnya, sang ibu sambil duduk menulis surat dengan serius.

Datanglah anak pertama dan berkata kepadanya, "Bu, aku mengasihimu!" Mendengar kakaknya berkata demikian, adik kedua tidak mau ketinggalan. Ia datang mendekati ibunya, lalu berkata pula, "Ibu, di antara kami bertiga, akulah yang lebih mengasihi ibu!"

Si bungsu yang memperhatikan dengan serius tindakan kedua kakaknya, segera meninggalkan mainannya, lalu datang kepada ibunya. Si bungsu tidak berkata apa-apa, tetapi ia langsung memeluk ibunya dengan penuh kasih. Setelah itu mereka kembali ke tempatnya masing-masing.

Setelah selesai menulis, pada saat itu di luar rumah hujan sangat deras disertai guruh dan kilat yang sambar-menyambar, dan sang ibu memanggil anak-anaknya dan menyuruh mereka untuk mengeposkan surat tersebut.

Sang ibu menekankan bahwa surat itu sangat penting dan harus segera dikirim. Anak yang pertama beralasan, "Bu, di luar hujan, aku tidak bisa pergi." Datanglah anak yang kedua dan beralasan, "Bu, aku lagi mengerjakan PR, harus selesai sore ini."

Si bungsu diam-diam mengambil mantel dan berkata sambil tersenyum, "Bu, saya yang akan mengantarkan surat ke kantor pos." Sahut ibunya, "Sabar nak, di luar masih hujan." Si bungsu mengambil surat itu lalu pergi mengantarkannya ke kantor pos, meskipun hari masih hujan.

Seringkali kita berkata kepada orang tua kita, "Bapa, mama, aku mengasihimu." Tetapi itu hanyalah ucapan yang keluar dari mulut, dan bukan dari dasar hati yang terdalam. Dalam kenyataan, ucapan kita cenderung seperti anak yang pertama dan kedua di saat kita menyatakan kasih kepada orang tua dan sesama kita. Sebenarnya kita tidak perlu mengucapkan kata-kata manis untuk mengungkapkan bahwa kita mengasihi orang tua dan sesama kita, melainkan melalui sikap dan tindakan nyata yang benar-benar tulus.


Sering kita berkata-kata kepada Tuhan, "Tuhan saya mengasihiMu.....", namun kita hanya berkata-kata saja tanpa dengan tulus hati mengasihiNya...tanpa mewujudkannya melalu perbuatan kita.....


Wanita Jelek Itu Adalah Ibuku

Catatan dari Regi Anugerah Hendaya

Ini adalah sebuah kisah lama yang patut dibaca dan direnungkan berkali- kali betapa baiknya ibunda kita, bagaimana besarnya pengorbanan ibunda kita dstnya

Kejadian ini terjadi di sebuah kota kecil di Taiwan, tahun berapaan udah lupa. Dan sempat dipublikasikan lewat media cetak dan electronic. Ada seorang pemuda bernama A be (bukan nama sebenarnya). Dia anak yg cerdas, rajin dan cukup cool. Setidaknya itu pendapat cewe2 yang kenal dia. Baru beberapa tahun lulus dari kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan swasta, dia sudah dipromosikan ke posisi manager. Gajinya pun lumayan.Tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari kantor.

Tipe orangnya yang humoris dan gaya hidupnya yang sederhana membuat banyak teman2 kantor
senang bergaul dengan dia, terutama dari kalangan cewe2 jomblo. Bahkan putri owner perusahaan tempat ia bekerja juga menaruh perhatian khusus pada A be.

Di rumahnya ada seorang wanita tua yang tampangnya seram sekali. Sebagian kepalanya botak dan kulit kepala terlihat seperti borok yang baru mengering. Rambutnya hanya tinggal sedikit di bagian kiri dan belakang. Tergerai seadanya sebatas pundak. Mukanya juga cacat seperti luka bakar. Wanita tua ini
betul2 seperti monster yang menakutkan. Ia jarang keluar rumah bahkan jarang keluar dari kamarnya
kalau tidak ada keperluan penting.

Wanita tua ini tidak lain adalah Ibu kandung A Be. Walau demikian, sang Ibu selalu setia melakukan
pekerjaan routine layaknya ibu rumah tangga lain yang sehat. Membereskan rumah, pekerjaan dapur,
cuci-mencuci (pakai mesin cuci) dan lain-lain. Juga selalu memberikan perhatian yang besar kepada
anak satu2-nya A be. Namun A be adalah seorang pemuda normal layaknya anak muda lain.
Kondisi Ibunya yang cacat menyeramkan itu membuatnya cukup sulit untuk mengakuinya.

Setiap kali ada teman atau kolega business yang bertanya siapa wanita cacat dirumahnya, A be selalu menjawab wanita itu adalah pembantu yang ikut Ibunya dulu sebelum meninggal. "Dia tidak punya saudara, jadi saya tampung, kasihan." jawab A be. Hal ini sempat terdengar dan diketahui oleh
sang Ibu. Tentu saja ibunya sedih sekali. Tetapi ia tetap diam dan menelan ludah pahit dalam hidupnya. Ia semakin jarang keluar dari kamarnya, takut anaknya sulit untuk menjelaskan pertanyaan mengenai dirinya.

Hari demi hari kemurungan sang Ibu kian parah. Suatu hari ia jatuh sakit cukup parah. Tidak kuat bangun dari ranjang. A be mulai kerepotan mengurusi rumah, menyapu, mengepel, cuci pakaian, menyiapkan segala keperluan sehari-hari yang biasanya di kerjakan oleh Ibunya. Ditambah harus menyiapkan obat-obatan buat sang Ibu sebelum dan setelah pulang kerja (di Taiwan sulit sekali cari pembantu, kalaupun ada mahal sekali). Hal ini membuat A be jadi BT (bad temper) dan uring-uringan di rumah.

Pada saat ia mencari sesuatu dan mengacak-acak lemari ibunya, A be melihat sebuah box kecil.
Di dalam box hanya ada sebuah foto dan potongan koran usang. Bukan berisi perhiasan seperti dugaan A be. Foto berukuran postcard itu tampak seorang wanita cantik. Potongan koran usang memberitakan tentang seorang wanita berjiwa pahlawan yang telah menyelamatkan anaknya dari musibah kebakaran. Dengan memeluk erat anaknya dalam dekapan, menutup dirinya dengan sprei kasur basah menerobos api yang sudah mengepung rumah.

Sang wanita menderita luka bakar cukup serius sedang anak dalam dekapannya tidak terluka sedikitpun. Walau sudah usang, A be cukup dewasa untuk mengetahui siapa wanita cantik di dalam foto dan siapa wanita pahlawan yang dimaksud dalam potongan koran itu. Dia adalah Ibu kandung A be. Wanita yang sekarang terbaring sakit tak berdaya.

Spontan air mata A be menetes keluar tanpa bisa dibendung. Dengan menggenggam foto dan koran
usang tersebut, A be langsung bersujud disamping ranjang sang Ibu yang terbaring. Sambil menahan tangis ia meminta maaf dan memohon ampun atas dosa-dosanya selama ini. Sang ibupun ikut menangis, terharu dengan ketulusan hati anaknya. "Yang sudah-sudah nak, Ibu sudah maafkan.
Jangan di ungkit lagi". Setelah sembuh, A be bahkan berani membawa Ibunya belanja ke supermarket.

Walau menjadi pusat perhatian banyak orang, A be tetap cuek bebek. Kemudian peristiwa ini menarik perhatian kuli tinta (wartawan). Dan membawa kisah ini ke dalam media cetak dan elektronik. Ketika membaca kisah ini di media cetak, saya sempat menangis karena tidak sempat bersujud di hadapan mamaku. Mamaku telah meninggal 3 th lebih saat itu.

Teman2 yang masih punya Ibu (Mama atau Mami) di rumah, biar bagaimanapun kondisinya, segera bersujud di hadapannya. Selagi masih ada waktu ya.

Cinta Yang Agung

Cinta yang agung
adalah ketika kamu
menitikan air mata dan masih peduli terhadapnya...

Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu
dan kamu masih menunggunya dengan setia..

Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain
dan kamu masih bisa tersenyum sambil berkata "aku turut berbahagia untukmu"

Apabila cinta tidak berhasil..

Bebaskan dirimu..

Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya
dan terbang ke alam bebas lagi..

Ingatlah...

Bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya..
Tapi, ketika cinta itu mati..
Kamu tidak perlu mati bersamanya.

Orang terkuat bukan mereka yang selalu menang..
Melainkan mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh...

(Kahlil Gibran)